Oleh Nurdin.A.Verin.
Fahaheel-Kuwait
Kalau kita mengkaji dari Sirah Nabi Muhammad SAW, jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW , ternyata orang-orang arab musyrikin jahiliyah sudah meyakini, mengakui dan mengerti betul, akan sifat Rububiyah Allah sebagai :
Al-Khalik/Pemilik (Pemilik alam semesta, pencipta alam semesta, pemberi rejeki, yang menghidupkan dan yang mematikan) Secarah fitrah mereka itu sudah beriman kepada sifat Rububiyah Allah. Semua ini dapat kita ketahui di dalam
Al-Qur’an.
(Q.S.:Yunus ayat 31 dan 32)
Allah berfirman :
قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَىَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَىِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ (٣١) فَذَٲلِكُمُ ٱللَّه رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَـٰلُۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُون
Artinya:
Katakanlah:"Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup [4] dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah: "Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]?" (31) Maka [Zat yang demikian] itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan [dari kebenaran]? (32)
Dari ayat-ayat di atas ini membuktikan bahwa orang-orang musyrikin arab jahiliyah, jauh sebelum Kelahiran Nabi SAW, mereka sudah mengimani Tauhid Rububiyah. Orang-orang arab jahiliyah sudah menamakan Ka’bah itu dengan nama Baitullah (Rumah- Allah). Keberadaan masjid Al-Haram sudah ada sebelumnya, dan sudah sudah dipergunakan sebagai tempat untuk melakukan ibadah rutinitas bagi orang-orang arab kafir jahiliyah, maksud jahiliyah disini bukan karena mereka itu bodoh, (buta huruf). Pada masa itu orang-orang arab sudah mencapai kebudayaan dan peradaban yang tinggi, dalam bidang perdagangan mereka sudah maju. Pembesar pembesar Quraisy didalam pemerintahannya sudah meletakkan dasar dasar Demokrasi, dan mereka sudah memiliki Majelis Permu- syawaratan yang mereka namakan “Darunnadwah” dan Paman Nabi sendiri Abu Jahal digelar sebagai Ahli Hukum dengan sebutan Abul Hakam. Kejahiliyahan mereka yang dimaksudkan adalah pelanggaran masalah Aqidah, mereka menyekutukan Allah dalam cara beribadah, mereka menjadikan berhala-berhala, arca-arca, wali-wali sebagai Nasithoh/perantara yang disebut : Al-I’thikod/keyakinan hati, mereka bertawasul, bertaqarrub mendekatkan diri kepada berhala berhala untuk memohon syafaat dengan berkeyakinan bahwa amalan yang mereka lakukan itu sangat mulia dan dicintai oleh Allah, dan berhala-berhala, arca arca, wali-wali itu semua sangat dekat dengan Allah. Mereka menjadikan semua itu sebagai alat perantara kepada Allah untuk memohon syafaat berdasarkan petunjuk amalan cara ibadah nenek moyang mereka. Inilah letak kejahiliyahan/kebodohan mereka semua. Dan pada masa itu juga, orang-orang arab musyrikin setiap tahunnya menunaikan haji pada musim haji ke Baitullah. Mereka melakukan tawaf keliling ka’bah sambil mengumandangkan lafaz ”labaikallah”. Pembesar-pembesar quraish bersama orang-orang arab pada saat mengepung Bani- Hasyim (Hisar), mereka menulis perjanjian yang ditempelkan pada ka’bah, mukadimah perjanjian itu tertulis “Bismillahumma” (Dengan Namamu Ya Allah). Abu Jahal (Abul Hakam) sebagai seorang yang ahli hukum, ketika awal perang Badar, dia berdo’a didepan Ka’bah, di dalam do’anya dia menyebut ”Allahumma ahlik Muhammad”
yang artinya ”Ya Allah, Musnahkanlah Muhammad”.
Abdul Muthalib (kakek nabi) menamakan Bapak Rasulullah SAW dengan nama Abdullah (hamba Allah). Pada tahun kelahiran Nabi SAW, saat terjadinya peristiwa pasukan bergajah yang dipimpin oleh Gubernur Yaman, yang bernama Abrahah datang memasuki Kota Mekah untuk menghancurkan Ka’bah, Abdul Muthalib menghadang Abrahah untuk menuntut kepada Abrahah, agar supaya semua unta-unta miliknya yang dirampas oleh tentara Abraha, agar supaya dikembalikan kepadanya. Abrahah sangat terkejut dan merasa heran sekali, karena Abdul Muthalib justru mempersoalkan unta-untanya, mengapa bukan mempersoalkan Ka’bah yang akan dihancurkan. Berkatalah Abdul Muthalib, “Sesungguhnya unta-unta itu Akulah Rabnya/Pemiliknya” sedangkan ”Ka’bah itu Allah Pemiliknya.” Dari kata-kata Abdul Muthalib ini jelas dia telah mengimani sifat Rububiyah Allah sebagai Tuhan Pemilik alam semesta, ketika detik-detik penghancuran Ka’bah, orang-orang arab jahiliyah itu berlari menuju ke bukit-bukit sekeliling Ka’bah untuk menyaksikan dari kejauhan pembalasan Allah terhadap Pasukan Abrahah bersama tentara bergajahnya. Peristiwa ini telah diabadikan di dalam Al-Quran
(Q.S:Surat Al-Fiil).
Allah berfirman :
ألَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصۡحَـٰبِ ٱلۡفِيلِ (١) أَلَمۡ يَجۡعَلۡ كَيۡدَهُمۡ فِى تَضۡلِيلٍ۬ (٢) وَأَرۡسَلَ عَلَيۡہِمۡ طَيۡرًا أَبَابِيلَ (٣) تَرۡمِيهِم بِحِجَارَةٍ۬ مِّن سِجِّيلٍ۬ (٤) فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٍ۬ مَّأۡڪُولِۭ (٥)
Artinya :
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? (1) Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka [untuk menghancurkan Ka’bah] itu sia-sia?, (2) Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, (3) yang melempari mereka dengan batu [berasal] dari tanah yang terbakar, (4) lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan [ulat]. (5)
Sesungguhnya peristiwa ini adalah sebagai pelajaran dan peringatan kepada mereka (orang-orang arab kafir quraish jahiliyah), sebagai nikmat yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Karena itu mereka diperintahkan untuk menyembah Allah. Dari kisah ini, kita dapat menyimpulkan bahwa jauh sebelum kelahiran Nabi SAW, orang-orang musyrikin jahiliyah sudah beriman kepada sifat Rububiyah Allah. Kalau Allah itu diimani sebagai Al-Khalik/Pencipta maka tidak sulit bagi manusia karena tauhid Rububiyah ini sudah menjadi fitrah manusia sejak lahir, dan sudah tersentralisasi di dalam diri manusia.
Allah berfirman :
وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَأَشۡہَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِہِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰۛ شَهِدۡنَآۛ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ إِنَّا ڪُنَّا عَنۡ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ
Artinya :
Dan [ingatlah], ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka [seraya berfirman]: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul [Engkau Tuhan kami], kami menjadi saksi". [Kami lakukan yang demikian itu] agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami [bani Adam] adalah orang-orang yang lengah terhadap ini [keesaan Tuhan]",
(Q.S: Al-A’raf : 172).
Apa sebenarnya yang terjadi antara orang-orang arab kafir quraish jahiliyah dengan Nabi SAW . Mengapa mereka semua menentang, menolak, dan memerangi ajakan Nabi SAW. Sedangkan Nabi SAW mengajak untuk beribadah kepada Tuhan yang sama, Tuhan yang sudah mereka yakini dari nenek moyang mereka yaitu Allah. Semua ini bisa kita buktikan berdasarkan Al-Qur'an
(Q.S: Al-Mukminun ayat 84-89)
قُل لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ إِن ڪُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ (٨٤) سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (٨٥) قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ ٱلسَّبۡعِ وَرَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ (٨٦) سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ (٨٧) قُلۡ مَنۢ بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيۡهِ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ (٨٨) سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ فَأَنَّىٰ تُسۡحَرُونَ (٨٩)
Artinya :
“Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?" (84) Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?" (85) Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ’Arsy yang besar?" (86) Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" (87) Katakanlah: "Siapakah yang di tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari [azab] -Nya, jika kamu mengetahui?" (88) Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "[Kalau demikian], maka dari jalan manakah kamu ditipu?" (89).”
Berdasarkan ayat-ayat di atas ini, membuktikan orang-orang arab musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah SAW, mereka semua telah beriman kepada sifat Rububiyah Allah. Orang-orang arab musyrikin jahiliyah, menolak seruan Nabi SAW karena mereka menyangka diri mereka telah beriman kepada Allah berdasarkan petunjuk amalan cara-cara ibadah nenek moyang mereka. Mereka menolak Nabi SAW dengan perkataan :
“Apakah kami belum beriman sedangkan kamilah setiap tahunnya memberi minum jemaah haji dan memakmurkan, mengurusi masjid Al-Haram”.
Maka turunlah firman Allah SWT di dalam
(Q.S: At-Taubah ayat 19) :
أَجَعَلۡتُمۡ سِقَايَةَ ٱلۡحَآجِّ وَعِمَارَةَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ كَمَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَجَـٰهَدَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِۚ لَا يَسۡتَوُ ۥنَ عِندَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِين
Artinya :
Apakah [orang-orang] yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.
Ayat diatas ini menjelaskan dan membuktikan, bahwa secara fitrah, manusia itu sudah beriman kepada Tauhid Rububiyah. Mengimani Tauhid Rububiyah ini tidak sulit bagi manusia karena Tauhid Rububiyah ini hanyalah keyakinan jiwa. Beriman kepada Tauhid Rububiyah belum bisa memasukkan seseorang kedalam Islam, karena belum terwujud kedalam bentuk amalan, sedangkan amalan itu dibawa dan diterangkan oleh Nabi dan Rasul. Tauhid Rububiyah tidak membutuhkan utusan Nabi dan Rasul, pada saat terjadi pelanggaran terhadap amalan-amalan Ibadah yang menyimpang, artinya pelanggaran terhadap Tauhid Al-Uluhiyah dan ‘Asma wash-Shifat, maka disinilah diturunkannya atau diutusnya Nabi dan Rasul. Seluruh para Nabi dan Rasul menyeru kepada kaumnya dengan satu seruan yang sama yaitu :
Beriman kepada Tauhid Al-Uluhiyah/Ibadah, semua ini dapat diketahui didalm Al-Qur’an, dari Rasul pertama Nabi Nuh as sampai pada penutup para Rasul yaitu Nabi Muhammad SAW, semuanya menyerukan pada satu seruan yang sama yaitu :
يـــقـــوم اعـــبـــدو الــلــه مالــكــم مــن إلــه غــيــره
Hai kaumku sembahlah Allah saja (beribadalah kalian kepada Allah)
tidak ada Ilah yang patut diibadahi kecuali Allah.
(Q.S: Al-A’raf : 54:65:73:85)
عــــبــدوالـلـه واجـــتـــنـــبــوالــطــغــــوت
Sembahlah Allah saja dan jauhilah thoghut
(Q.S: An-Nahl : 36)
Dari ayat diatas ini dapat di ketahui bahwa seluruh para Nabi dan Rasul diutus dengan tujuan dan misi yang sama, sekalipun syariatnya berbeda-beda tetapi untuk tujuan yang sama yaitu : ”Dakwa kepada Tauhid” pemurnian Ibadah hanya kepada Allah semata, dan tidak menyekutukanNya dengan yang lain, mengingkari kesyirikan, bertaqwa kepadaNya dan taat kepada Rasulnya. Pemurnian Ibadah inilah yang dimaksud dengan Tauhid Al-Uluhiyah.
Tauhid Al-Uluhiyah adalah :
mengesakan Allah semata dari segala pekerjaan hamba, dengan cara itu seseorang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan yang lain dalam beribadah kepadaNya, berdoa, khauf (takut), raja (harap), mahabbah (cinta), istianah(memohon pertolongan), istiadzah (memohon perlindungan), dzabh (penyembelihan), dan mengikuti apa yang disyariatkan maupun diperintahkan dengan tidak menyekutu- kannya dengan sesuatu apapun, dengan hati yang ikhlas karena Allah semata. Semua ibadah dan yang lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah, dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selainNya, apabila ibadah tersebut dipalingkan kepada selainNya maka pelakunya jatuh kepada Syirkun Akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya.
Allah SWT berfirman :
(Q.S:An-Nisaa 36:48:11:36)
وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـًٔ۬اَ
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.(36)
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٲلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari [syirik] itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (48)
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٲلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاَۢ بَعِيدًا
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan [sesuatu] dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan [sesuatu] dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (116)
Setiap sesuatu yang disembah selain Allah SWT adalah bathil, dalilnya adalah, Allah SWT berfirman :
(Q.S:Al-Hajj:62)
ذَٲلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِىُّ ٱلۡڪَبِيرُ
[Kuasa Allah] yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah [Tuhan] Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.(62)
Semua para Nabi dan Rasul A.S menyerukan kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja :
(Q.S:Al-Mukminun:32)
فَأَرۡسَلۡنَا فِيہِمۡ رَسُولاً۬ مِّنۡہُمۡ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَيۡرُهُ ۥۤۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri [yang berkata]: "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]". (32)
Mereka orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya, Mereka masih saja mengambil sesembahan selain Allah. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah SWT. Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah SWT dengan dua bukti :
Pertama :
Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan Uluhiyah sedikitpun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menghidupkan dan mematikan. Allah SWT berfirman :
(Q.S:Al-Fur’qaan:3)
وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦۤ ءَالِهَةً۬ لَّا يَخۡلُقُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ وَلَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ ضَرًّ۬ا وَلَا نَفۡعً۬ا وَلَا يَمۡلِكُونَ مَوۡتً۬ا وَلَا حَيَوٰةً۬ وَلَا نُشُورً۬ا
Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya [untuk disembah], yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk [menolak] sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak [pula untuk mengambil] sesuatu kemanfa’atanpun dan [juga] tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak [pula] membangkitkan.(3)
Allah SWT berfirman :
(Q.S:Al-A’raaf:191:192)
أَيُشۡرِكُونَ مَا لَا يَخۡلُقُ شَيۡـًٔ۬ا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ
وَلَا يَسۡتَطِيعُونَ لَهُمۡ نَصۡرً۬ا وَلَآ أَنفُسَہُمۡ يَنصُرُونَ
Apakah mereka mempersekutukan [Allah dengan] berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. (191)
Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. (192)
Kedua :
Sebenarnya orang-orang musyrikin mengakui bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang ditangannyaNya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melindungiNya. Ini mengharuskan pengesaan Uluhiyah (penghambaan), sepeti mereka mengesakan Rububiyah (ketuhanan) Allah. Tauhid Rububiyah mengaharuskan adanya konsekuensi untuk melaksanakan Tauhid Al-Uluhiyah (beribadah hanya kepada Allah SWT saja).
(Q.S:Al-Baqarah:21-22)
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ (٢١
ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٲشً۬ا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءً۬ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٲتِ رِزۡقً۬ا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّه أَندَادً۬ا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.(21)
Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air [hujan] dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah [5] padahal kamu mengetahui.(22)
Dari kesimpulan ini kita dapat memahami dengan jelas, bahwa umat-umat sebelumya yang diseru oleh para Nabi dan Rasul maupun orang-orang Arab musyrikin jahilia yang pernah diperangi oleh Nabi Muhammad SAW, ternyata bukan menolak Tauhid Rububiyah, tetapi mereka semua itu mengingkari, membangkang dan menolak dalam hal Tauhid Al-Uluhiyah.
Ketika Rasulullah SAW berdakwa kepada orang-orang Arab musyrikin jahilia, apa yang terjadi pada saat itu, ternyata mereka (orang-orang arab musyrikin) itu menolak dan sangat keberatan untuk diajak bersyahadat, mereka menolak untuk bersyahadat, karena mereka itu tidak mau hanya beribadah kepada Allah saja, dan mengikuti amalan yang dibawa oleh Baginda Rasulullah SAW, mereka itu sangat faham betul dengan makna kandungan dari pada syahadat itu, dan sangat mengerti betul apa arti dari tujuan untuk bersyahadat itu:
لاالـــــــه الاالــــــلــــــه yang artinya :
( tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah )
sehingga mereka berteriak :
(Q:S.Sood:5)
أَجَعَلَ ٱلۡأَلِهَةَ إِلَـٰهً۬ا وَٲحِدًاۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَىۡءٌ عُجَابٌ۬
Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (5)
Ayat diatas ini menerangkan, bahwa ternyata mereka (orang-orang Arab musyrikin jahilia) itu tidak mau beribadah hanya kepda Allah saja.
(Q:S.Zumr:3)
وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِى مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah [berkata]: "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". (3)
Namun semua pernyataan mereka itu adalah dugaan belaka, Allah menegaskan “Barang siapa yang menyembah selainnya maka dia telah berbuat syrik kepadaNya dan jatuh kepada kekafiran.
(Q:S.Yunus:18)
وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ قُلۡ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَـٰنَهُ ۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ
Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak [pula] kemanfa’atan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak [pula] di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan [itu]. (18)
Allah SWT berfirman mengenai Latta, uzza, dan manat yang disebut sebagai Tuhan oleh kaum musyrikin jahilia.
(Q:S.An-Najm:23)
....إِنۡ هِىَ إِلَّآ أَسۡمَآءٌ۬ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِہَا مِن سُلۡطَـٰنٍ (٢٣
Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk [menyembah] nya.
(Q:S.Al-A’raaf:191-192)
أَيُشۡرِكُونَ مَا لَا يَخۡلُقُ شَيۡـًٔ۬ا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ (١٩١
وَلَا يَسۡتَطِيعُونَ لَهُمۡ نَصۡرً۬ا وَلَآ أَنفُسَہُمۡ يَنصُرُونَ (١٩٢
Apakah mereka mempersekutukan [Allah dengan] berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. (191)
Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. (192)
Ada beberapa faktor yang mendorong mereka (orang-orang arab Quraisy musyrikin) menolak dakwa Rasulullah SAW, menentang ajaran Islam dan memerangi kaum muslimin, antara lain ialah :
Pertama :
Mereka tidak mau beribadah hanya kepada Allah SWT saja,
( artinya menolak dalam hal Tauhid Al-Uluhiyah ).
Mereka menolak dakwa Rasulullah SAW adalah dalam masalah prinsip Aqidah/Azas Islam.
Mereka itu menolak untuk bersyahadat, karena ada sesuatu unsur yang sangat memberatkan mereka untuk bersyahadat, yaitu mereka tidak mau beribadah hanya kepada Allah saja, dan mengikuti amalan-amalan yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Mereka itu sangat memahami arti dari kandungan makna kalimat syahadat, menurut pandangan mereka, kalau ikrar syahadat itu mereka lakukan, maka, mereka harus beribadah hanya kepada Allah semata, dan tunduk terhadap amalan-amalan yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Berarti mereka harus mengingkari Tuhan-tuhan yang lainnya, dan berhala-berhala yang jumlahnya mencapai 360 sekian, sebagai alat perantara mereka kepada Allah
atau sebagai wali-wali mereka untuk memohon syafa’at, maupun amalan-amalan kurafat, dan harus mengingkari amalan-amalan ibadah nenek moyang mereka, yang telah mereka agung-agungkan itu.Inilah letak sumber perrmasalan yang menjadikan timbulnya pertentangan yang sengit dan terputusnya hubungan kekeluargaan antara mereka (orang-orang arab musyrikin) dengan Rasulullah SAW. Mereka memerangi dakwa Rasulullah SAW karena mereka tidak mau untuk diajak ber-Tauhid Al-Uluhiyah.
(Al-Mai’dah:104)
وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُواْ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَہۡتَدُونَ (١٠٤
Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak [pula] mendapat petunjuk? (104)
Kedua :
Persaingan berebut kekuasaan dalam kabilah besar Quraisy sudah sejak lama terjadi dimana terdapat golongan-golongan (keluarga besar) yang saling bersaing untuk merebut pengaruh dan kekuasaan. Mereka ini tidak mau tunduk kepada Muhammad, menurut pendapat mereka, apabila tunduk kepada Muhammad berarti sama dengan menyerhkan pimpinan dan kekuasaan kepada keluarga Muhammad (bani Abdul Muthalib). Mereka (orang-orang arab quraisy) tidak dapat membedakan ke-Nabian dan kekuasaan .
Ketiga :
Mereka menentang Islam dalam masalah (Ajaran persamaan hak dan derajat yang dibawa Islam), karena orang-orang arab quraisy musyrikin memandang derajat diri mereka adalah lebih mulia danlebih tinggi dari golongan bangsa arab lainnya. Sedangkan Rasulullah SAW datang dengan dengan membawa ajaran Islam memandang manusia itu sama saja hak dan martabatnya, tidak ada perbedaan antara hamba sahaya dengan tuannya, dan antara orang kulit putih dengan orang kulit hitam.
Sebagaimana Allah SWT berfirman :
(QS:Al-Hujurat:13)
إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡۚ ۬ (١٣
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Oleh sebab itu orang quraisy enggan masuk Islam, menolak ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, yang menurut angapan mereka semua itu hanya menurunkan martabat mereka.
Selasa, 16 September 2008
Langganan:
Komentar (Atom)