Sumber: Aqidah Imam Empat karangan Syaikh Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais. Diterjemahkan oleh Ali Musa Ya’qub,
Posted by: Nurdin Ambotang
1. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya,
Imam Syafi’i mengatakan:
“Barangsiapa bersumpah dengan menyebut salah satu asma’ Allah, kemudian melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarat.
Dan barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain Allah, misalnya “demi Ka’bah”, “demi ayahku”, dan sebagainya, kemudian melanggar sumpah itu, maka ia tidak wajib membayar kaffarat.
Begitu pula apabila ia bersumpah dengan mengatakan “demi umurku”, ia tidak wajib membayar kaffarat. Namun, bersumpah dengan menyebut selain Allah adalah haram, dan
dilarang berdasarkan hadits Nabi: “Sesungguhnya Allah melarang kamu untuk bersumpah dengan menyebut nenek moyang kamu. Siapa yang hendak bersumpah, maka bersumpahlah dengan menyebut asma’ Allah, atau lebih baik diam saja
(Shahih al-Bukhary, Kitab al-Aiman wa an-Nadzair, II/530).
2. Imam Ibn al-Qayyim menuturkan dalam kitabnya Ijtima’ al-Juyusy, sebuah riwayat dari Imam Syafi’i, bahwa beliau berkata:
“Berbicara tentang sunnah yang menjadi pegangan saya, Shahib-shahib (murid-murid) saya, begitu pula para ahli hadits yang saya lihat dan saya ambil ilmu mereka, seperti Sufyan, Malik, dan lain-lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah, dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu diatas ‘Arsy dilangit, dan dekat dengan makhluk-Nya, terserah kehendak Allah, dan Allah itu turun ke langit terdekat kapan Allah berkehendak.
3. Imam adz-Dzahabi meriwayatkan dari al-Muzani,
katanya, “Apabila ada orang yang dapat mengeluarkan unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid yang ada didalam hati saya, maka orang itu adalah Imam Syafi’i.”
Saya pernah dengar di masjid Cairo dengan beliau, ketika saya mendepat didepan beliau, dalam hati saya terdapat unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid. Kata hatiku, saya tahu bahwa seseorang tidak akan mengetahui ilmu yang ada pada diri Anda, maka apa sebenarnya yang ada pada diri Andar?
Tiba-tiba beliau marah, lalu bertanya:
“Tahukah kamu, dimana kamu sekarang?”
Saya menjawab: “Ya”. Beliau berkata : “Ini adalah tempat dimana Allah menenggelamkan Fir’aun. Apakah kamu tahu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa salam pernah menyuruh bertanya masalah yang ada dalam hatimu itu?”. “Tidak”, jawab saya. “Apakah para sahabat pernah membicarakan hal itu?”. “Tidak”, jawab saya. “Berapakah jumlah bintang dilangit?”, tanya beliau lagi. “Tidak tahu”, jawab saya. “Apakah kamu tahu jenis bintang-bintang itu, kapan terbitnya, kapan terbenamnya, dari bahan apa bintang-bintang itu diciptakan?”, tanya beliau. “Tudaj tahu” jawab saya. “Itu masalah makhluk yang kamu lihat dengan mata kepalamu, ternyata kamu tidak tahu. Mana mungkni kamu mau membicarakan tentang ilmu Pencipta makhluk itu”, kata beliau mengakhiri.
Kemudian beliau menanyakan kepada saya tentang masalah wudhu’, ternyata jawaban saya salah. Beliau lalu mengembangkan masalah itu menjadi empat masalah, ternyata jawaban saya juga tidak ada yang benar. Akhirnya beliau berkata: “Masalah yang kamu perlukan tiap hari lima kali saja tidak kamu pelajari. Tetapi kamu justru berupaya untuk mengetahui ilmu Allah. Ketika hal itu berbisik dalam hatimu.
Kembali saja kepada firman Allah :
“Dan tuhanmu adalah Tuhan yang satu. Tidak ada tuhan (yang Haq) selain Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya didalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berjalan dilautan dengan membawa barang-barang bermanfaat bagi manusia, dan air hujan yang diturunkan Allah dari langit dimana kemudian dengan air itu Allah hidupkan bumi setelah ia mati (gersang) dan Allah menyebarkan diatas bumi semua binatang melata, dan pengisaran angin dan awan yang direndahkan antara langit dan bumi, semuanya itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah: 163-164)
“Karenanya”, lanjut Iman Syafi’i, “Jadikanlah makhluk itu sebagai bukti atas kekuasaan Allah, dan janganlah kamu memaksa-maksa diri untuk mengetahui hal-hal yang tidak dapat dicapai oleh akalmu.
4. Imam Ibn Abdil Bar meriwayatkan dari Yunus bin Abdul A’la,
katanya, Saya mendengar Imam Syafi’i berkata:
“Apabila kamu mendengar ada orang berkata bahwa nama itu berlainan dengan apa yang diberi nama, atau sesuatu itu berbeda dengan sesuatu itu, maka saksikanlah bahwa orang itu adalah kafir zindiq”
5. Dalam kitab ar-Risalah, Imam Syafi’i berkata:
” Segala puji bagi Allah yang memiliki sifat-sifat sebagaimana Dia mensifati diri-Nya, dan diatas yang disifati makhlukNya.”
6. Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya Syiar A’lam an-Nubala’
menuturkan dari Imam Syafi’i, kata beliau:
“Kita menetapkan sifat-sifat Allah ini sebagaimana disebutkan didalam al-Quran dan Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa salam, dan kita meniadakan tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya), sebagaimana Allah juga meniadakan tasybih itu dalam firmanNya:
“Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia.” (as-Syura: 11)
7. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman,
katanya, “Saya mendengar Imam Syafi’i berkata tentang firman Allah:
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu (hari kiamat) benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.” (al-Muthaffifin :15)
“Ayat ini memberitahukan kita bahwa pada hari kiamat nanti ada orang-orang yang tidak terhalang, mereka dapat melihat Allah dengan jelas.”
8. Imam al-Lalaka’i menuturkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman,
katanya, “Saya datang kerumah Imam Syafi’i, ketika itu datang sebuah pertanyaan kepada beliau, “Apa pendapat Anda tentang firman Allah dalam surat al-Muthaffifin ayat 15,
yang artinya, “Sekali-kali tidak, Sesungguhnya mereka pada hari itu terhalang dari (melihat) Tuhannya?”
Imam Syafi’i menjawab:
“Apabila orang-orang itu tidak dapat melihat Allah karena dimurkai Allah, maka ini merupakan dalil bahwa orang-orang yang diridhai Allah akan dapat melihat-Nya.”
Ar-Rabi’ lalu bertanya:
“Wahai Abu Abdillah, apakah anda berpendapat seperti itu?. “Ya, saya berpendapat seperti itu, dan itu saya yakini kepada Allah”, begitu jawab Iman Syafi’i.
9. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan, katanya, Dihadapan Imam Syafi’i ada orang menyebut-nyebut nama Ibrahim bin Isma’il bin Ulayah. Kemudian Imam Syafi’i berkata:
“Saya berbeda pendapat dengan dia dalam segala hal. Begitu pula dalam kalimat “La ilaha illallah” Saya tidak sependapat seperti pendapatnya. Saya mengatakan Allah berfirman kepada Nabi Musa secara langsung tanpa penghalang. Sedangkan dia mengatakan, bahwa ketika Allah berfirman kepada Nabi Musa, Allah menciptakan ucapan-ucapan yan kemudian dapat didengar oleh Nabi Musa secara tidak langsung (ada penghalang).”
10 Imam al-Lalaka’i meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi’i mengatakan:
“Barangsiapa yang mengatakan bahwa al-Quran itu makhluk, maka dia telah menjadi kafir.
11. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Muhammad az-Zubairi,
katanya, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i, “benarkah al-Quran itu khaliq (pencipta)?”. Jawab beliau: “Tidak Benar.”. “Apakah al-Quran itu makhluk?”, tanyanya lagi. “Tidak”, jawab Imam Syafi’i. “Apakah al-Quran itu bukan makhluk?”, tanyanya berikutnya. “Ya, begitu”, jawab Imam Syafi’i.
Orang tadi bertanya lagi:
“Mana buktinya bahwa al-Quran itu bukan makhluk?”.
Imam Syafi’i kemudian mengangkat kepalanya, dan berkata: “Maukah kamu mengakui bahwa al-Quran itu Kalam Allah?”.
“Ya, mau”, kata orang tadi.
Imam syafi’i kemudian berkata:
“Kamu telah didahului ayat:
“Dan jika diantara orang-orang musryik itu meminta perlindungan kepada kamu, maka lindungilah ia, supaya ia sempat mendengar Kalam Allah.” (at-Taubah: 6)
dan ayat:
“Dan Allah telah berbicara dengan Musa secara langsung.” (an-Nisa’: 164)
Imam Syafi’i kemudian berkata lagi kepada orang tersebut: “Maukah kamu mengakui bahwa Allah itu ada dan demikian pula KalamNya? atau Allah itu ada, sedangkan KalamNya belum ada?”. Allah ada, begitu pula Kalamnya.”
Mendengar jawaban itu Imam Syafi’i tersenyum, lalu berkata:
“Wahai orang-orang kuffah, kamu akan membawakan sesuatu yang agung kepadaku, apabila kamu mengakui bahwa Allah itu ada semenjak zaman azali, begitu pula KalamNya. Lalu darimana kamu pernah punya pendapat bahwa Kalam itu Allah atau bukan Allah?”. Mendengar penegasan Imam Syafi’i, orang tadi terdiam, kemudian keluar.
12. Dalam kitab Juz al-I’tiqad, yang disebut-sebut sebagai karya Imam Syafi’i, dari riwayat Abu Thalib al-’Isyari, ada sebuah keterangan sebagai berikut:
“Imam Syafi’i pernah ditanya tentang sifat-sifat Allah, dan hal-hal yang perlu diimani, jawab beliau: “Allah Tabaraka wa ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa salam, yang siapapun dari umatnya tidak boleh menyimpang dari ketentuan seperti itu setelah memperoleh keterangan (hujjah). Apabila ia menyimpang dari ketentuan setelah ia memperoleh hujjah tersebut, maka kafirlah dia.
Namun apabila ia menyimpang dari ketentuan sebelum ia memperoleh hujjah, maka hal itu tidap apa-apa baginya. Ia dimaafkan karena ketidaktahuannya itu. Sebab untuk mengetahui sifat-sifat Allah itu tidak mungkin dilakukan dengan akal dan pikiran, tetapi hanya berdasarkan keterangan-keterangan dari Allah. Bahwa Allah itu mendengar,
Allah mempunyai dua tangan:
“Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka” (al-Maidah: 64)
Dan bahwa Allah itu mempunyai tangan kanan
“Dan langit itu dilipat tangan kanan Allah” (az-Zumar: 67)
Dan Allah juga punya wajah:
“Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah Allah” (al-Qashash: 88 )
“Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”
(ar-RahmanL 27)
Allah juga mempunyai telapak kaki, ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa salam :
“Sehingga Allah meletakkan telapak kaki-Nya di Jahannam”
(Shahih Bukhari, Kitab at-Tafsir, VII/594. Shahih Muslim, kitab al-Jannah, IV/2187)
Allah tertawa terhadap hamba-Nya yang mukmin, sesuai dengan sabda Rasululllah kepada orang yang terbunuh dalam jihad fi sabilillah, bahwa “kelah akan bertemu dengan Allah, dan Allah tertawa kepadanya”
(Shahih Bukhari, kitab al-Jihad, VI/39. Shahih Muslim, kitab al-Imarat, III(1504)
Allah turun setiap malam ke langit yang terdekat dengan bumi, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa salam tentang hal itu. Mata Allah tidak pecak sebelah, sesuai dengan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa salam yang menyebutkan, bahwa “Dajjal itu pecak sebelah matanya. Sedangkan Allah tidak pecak sebelah mata-Nya”.
Orang-orang mukmin kelak akan melihat Allah pada hari kiamat dengan mata kepala mereka, seperti halnya mereka melihat bulan purnama. Allah juga punya jari jemari,
berdasarkan hadit Nabi Shallallahu alaihi wa salam:
“Tidak ada satu buah hati kecuali ia berada diantara jari-jari Allah ar-Rahman”
(Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, IV/182. Sunan Ibn Majah, I/72, Mustadrak al-hakim, I/525. al-Ajiri, asy-syari’ah, hal. 317. Ibn Mnada, ar-Radd)
Pengertian sifat-sifat seperti ini, dimana Allah telah mensifati diri-Nya sendiri dan Nabi Shallallahu alaihi wa salam juga mensifatiNya, tidak dapat diketahui hakikatnya oleh akal dan pikiran. Orang yang tidak mendengar keterangan tentang hal itu tidak dapat disebut kafir. Apabila ia telah mendenga keterangan sendiri secara langsung, maka ia wajib meyakininya seperti halnya kita harus menetapkan sifat-sifat itu tanpa tasybih (menyerupakan) Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana juga Allah tidak menyerupakan makhluk apapun dengan diri-Nya, Allah berfirman:
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (asy-Syura: 11)
TAUHID
Senin, 15 Desember 2008
Sabtu, 06 Desember 2008
10 Pembatal Keislaman
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya untuk masuk ke dalam Dinul Islam dan berpegang teguh dengannya, serta mewaspai segala sesuatu yang akan menyimpangkan mereka dari din yang suci ini.
Dia mengutus nabi-Nya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan amanat da’wah yang suci dan mulia. Allah juga telah mengingatkan hamba-Nya, bahwa barangsiapa yang mengikuti seruan para Rasul itu, maka dia telah mendapatkan hidayah; dan siapa yang berpaling dari seruannya, maka ia telah tersesat.
Di dalam Kitabullah, ia mengingatkan manusia tentang perkara-perkara yang menjadi sebab “riddah” (murtad dari Dinul Islam) dan perkara-perkara yang termasuk kemusyrikan dan kekafiran. Beberapa ulama rahimahullah selanjutnya menyebutkan peringatan-peringatan Allah itu dalam kitab-kitab mereka.
Mereka mengingatkan bahwa sesungguhnya seorang muslim dapat dianggap murtad dari Dinul Islam disebabkan beberapa hal yang bertentangan, yaitu :
Mengadakan persekutuan dalam beribadah kepada Allah. “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya dan mengampuni selain dosa syrik bagi siapa yang dikehendaki…”. (An-Nisa: 116). “Sesungguhnya siapa saja yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (Al-Maidah: 72) Termasuk dalam hal ini, permohonan pertolongan dan permohonan do’a kepada orang mati serta bernadzar dan menyembelih qurban untuk mereka.
Menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai perantara do’a, permohonan syafaat, serta sikap tawakal mereka kepada Allah.
Menolak untuk mengkafirkan orang-orang musyrik, atau menyangsikan kekafiran mereka, bahkan membenarkan madzhab mereka.
Berkeyakinan bahwa petunjuk selain yang datang dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih sempurna dan lebih baik. Menganggap suatu hukum atau undang-undang lainnya lebih baik dibandingkan syari’at Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta lebih mengutamakan hukum taghut dibandingkan ketetapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Membenci sesuatu yang datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, meskipun diamalkannya. “Demikian itu karena sesungguhnya mereka benci terhadap apa yang diturunkan Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) amal-amal mereka”. (Muhammad: 9).
Mengolok-olok sebagian dari Din yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, misalnya tentang pahala atau balasan yang akan diterima. “…Katakanlah, apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta ma’af, karena kamu kafir sesudah beriman…”.(At-Taubah: 65-66).
Masalah sihir. Diantara bentuk sihir adalah “Ash Sharf” (pengalihan), yaitu mengubah perasaan seorang laki-laki menjadi benci kepada istrinya. Sedangkan “Al ‘Athaf” adalah sebaliknya, menjadikan orang senang terhadap apa yang sebelumnya dia benci dengan bantuan syaithan. “..dan keduanya tidak mengajarkan sihir kepada seseorang pun sebelum mengatakan,’Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, karena itu janganlah kamu kafir…”.(Al-Baqoroh: 102).
Mengutamakan orang kafir serta memberikan pertolongan dan bantuan kepada orang musyrik lebih daripada pertolongan dan bantuan yang diberikan kepada kaum muslimin. “…barangsiapa di antara kamu, mengambil mereka orang-orang musyrik menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim”. (Al-Maidah: 51).
Beranggapan bahwa manusia bisa leluasa kelar dari syari’at Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Barangsiapa yang mencari agama selain Dinul Islam, maka dia tidak diterima amal perbuatannya, sedang dia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi”. (Ali-Imran: 85).
Berpaling dari Dinullah, baik karena dia tidak mau mempelajarinya atau karena tidak mau mengamalkannya. “Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-prang yang berdosa”. (As-Sajadah: 22).
Kita berlindung kepada Alah dari hal-hal yang menyebabkan kemurkaan-Nya dan dari adzabnya yang pedih. Shalawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada sebaik-baiknya mahluk-Nya, Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.
Maraji’: Aqidah Shohihah Vs Aqidah Bathilah, Syaikh Abdul Aziz bin baaz
Dia mengutus nabi-Nya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan amanat da’wah yang suci dan mulia. Allah juga telah mengingatkan hamba-Nya, bahwa barangsiapa yang mengikuti seruan para Rasul itu, maka dia telah mendapatkan hidayah; dan siapa yang berpaling dari seruannya, maka ia telah tersesat.
Di dalam Kitabullah, ia mengingatkan manusia tentang perkara-perkara yang menjadi sebab “riddah” (murtad dari Dinul Islam) dan perkara-perkara yang termasuk kemusyrikan dan kekafiran. Beberapa ulama rahimahullah selanjutnya menyebutkan peringatan-peringatan Allah itu dalam kitab-kitab mereka.
Mereka mengingatkan bahwa sesungguhnya seorang muslim dapat dianggap murtad dari Dinul Islam disebabkan beberapa hal yang bertentangan, yaitu :
Mengadakan persekutuan dalam beribadah kepada Allah. “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya dan mengampuni selain dosa syrik bagi siapa yang dikehendaki…”. (An-Nisa: 116). “Sesungguhnya siapa saja yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (Al-Maidah: 72) Termasuk dalam hal ini, permohonan pertolongan dan permohonan do’a kepada orang mati serta bernadzar dan menyembelih qurban untuk mereka.
Menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai perantara do’a, permohonan syafaat, serta sikap tawakal mereka kepada Allah.
Menolak untuk mengkafirkan orang-orang musyrik, atau menyangsikan kekafiran mereka, bahkan membenarkan madzhab mereka.
Berkeyakinan bahwa petunjuk selain yang datang dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih sempurna dan lebih baik. Menganggap suatu hukum atau undang-undang lainnya lebih baik dibandingkan syari’at Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta lebih mengutamakan hukum taghut dibandingkan ketetapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Membenci sesuatu yang datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, meskipun diamalkannya. “Demikian itu karena sesungguhnya mereka benci terhadap apa yang diturunkan Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) amal-amal mereka”. (Muhammad: 9).
Mengolok-olok sebagian dari Din yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, misalnya tentang pahala atau balasan yang akan diterima. “…Katakanlah, apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta ma’af, karena kamu kafir sesudah beriman…”.(At-Taubah: 65-66).
Masalah sihir. Diantara bentuk sihir adalah “Ash Sharf” (pengalihan), yaitu mengubah perasaan seorang laki-laki menjadi benci kepada istrinya. Sedangkan “Al ‘Athaf” adalah sebaliknya, menjadikan orang senang terhadap apa yang sebelumnya dia benci dengan bantuan syaithan. “..dan keduanya tidak mengajarkan sihir kepada seseorang pun sebelum mengatakan,’Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, karena itu janganlah kamu kafir…”.(Al-Baqoroh: 102).
Mengutamakan orang kafir serta memberikan pertolongan dan bantuan kepada orang musyrik lebih daripada pertolongan dan bantuan yang diberikan kepada kaum muslimin. “…barangsiapa di antara kamu, mengambil mereka orang-orang musyrik menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim”. (Al-Maidah: 51).
Beranggapan bahwa manusia bisa leluasa kelar dari syari’at Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Barangsiapa yang mencari agama selain Dinul Islam, maka dia tidak diterima amal perbuatannya, sedang dia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi”. (Ali-Imran: 85).
Berpaling dari Dinullah, baik karena dia tidak mau mempelajarinya atau karena tidak mau mengamalkannya. “Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-prang yang berdosa”. (As-Sajadah: 22).
Kita berlindung kepada Alah dari hal-hal yang menyebabkan kemurkaan-Nya dan dari adzabnya yang pedih. Shalawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada sebaik-baiknya mahluk-Nya, Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.
Maraji’: Aqidah Shohihah Vs Aqidah Bathilah, Syaikh Abdul Aziz bin baaz
Syahadatain MUHAMMAD RASULULLAH. MAKNA
Syahadatain MUHAMMAD RASULULLAH
MAKNA
Mengakui secara lahir dan batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya diutus kepada manusia secara keseluruhan konsekuensinya mengamalkan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan tidak menyembah Allah kecuali yang disyariatkan.
RUKUN
Tidak berlebih-lebihan (ifrath) dengan tidak mengkultuskan maupun mendudukannya sebagai sesembahan selain Allah
Tidak meremehkan (tafrith), yaitu dengan mendahulukan hukum, perkataan dan sunnah beliau diatas segala pendapat orang.
SYARAT
Mengakui kerasulannya dan meyakini dalam hati
Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan
Mengikuti dan mengamalkan ajaran yang dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya
Membenarkan segala yang dikabarkan dari hal-hal ghaib, baik yang sudah lewat maupun yang akan datang
Mencintainya melebihi cintanya kepada diri sendiri, harta, anak, orang tua serta seluruh manusia
Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya.
KONSEKUENSI
Mentaati perintahnya
Membenarkan ucapannya
Menjauhi larangannya
Tidak menyembah Allah I kecuali dengan apa yang disyariatkan.
Disarikan dari Kajian BKMT di Masjid Al Furqan, TAM Head Office, Rujukan Kitab Tauhid Jilid 1, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan, Darul Haq, 2000
MAKNA
Mengakui secara lahir dan batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya diutus kepada manusia secara keseluruhan konsekuensinya mengamalkan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan tidak menyembah Allah kecuali yang disyariatkan.
RUKUN
Tidak berlebih-lebihan (ifrath) dengan tidak mengkultuskan maupun mendudukannya sebagai sesembahan selain Allah
Tidak meremehkan (tafrith), yaitu dengan mendahulukan hukum, perkataan dan sunnah beliau diatas segala pendapat orang.
SYARAT
Mengakui kerasulannya dan meyakini dalam hati
Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan
Mengikuti dan mengamalkan ajaran yang dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya
Membenarkan segala yang dikabarkan dari hal-hal ghaib, baik yang sudah lewat maupun yang akan datang
Mencintainya melebihi cintanya kepada diri sendiri, harta, anak, orang tua serta seluruh manusia
Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya.
KONSEKUENSI
Mentaati perintahnya
Membenarkan ucapannya
Menjauhi larangannya
Tidak menyembah Allah I kecuali dengan apa yang disyariatkan.
Disarikan dari Kajian BKMT di Masjid Al Furqan, TAM Head Office, Rujukan Kitab Tauhid Jilid 1, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan, Darul Haq, 2000
Syahadat adalah persaksian hati dan lisan, dengan mengerti maknanya, mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin.MAKNA
Syahadat adalah persaksian hati dan lisan, dengan mengerti maknanya, mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin.MAKNA
Berkeyakinan dan bersumpah bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah I semata dengan mentaati dan mengamalkannyaRUKUN
Peniadaan (An Nafyu) terhadap segala apa yang disembah selain Allah [membatalkan syirik dengan segala bentuknya]
Penetapan (Al Itsbat) bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah
SYARAT
Mengetahui (ilmu). Memahami makna dan maksudnya (apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan).
Yakin. Meyakini kandungannya, manakala ia meragukan maka sia-sia belaka persaksiannya.
Ikhlas. Membersihkan amal dari segala macam syirik.
Jujur (shidq). Hatinya meyakini, lisannya mengucapkan dan tidak mendustakan apa yang diucapkan.
Cinta (mahabah). Mencintai kalimat ini dan isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkannya.
Tunduk (inqiyad). Patuh dengan kandungan kalimat ini, berlepas diri dari peribadatan selain kepada Allah I dan para pelakunya.
Menerima (qobul). Menerima kandungan syahadat ini dengan menyembah Allah I semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.
Berkeyakinan dan bersumpah bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah I semata dengan mentaati dan mengamalkannyaRUKUN
Peniadaan (An Nafyu) terhadap segala apa yang disembah selain Allah [membatalkan syirik dengan segala bentuknya]
Penetapan (Al Itsbat) bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah
SYARAT
Mengetahui (ilmu). Memahami makna dan maksudnya (apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan).
Yakin. Meyakini kandungannya, manakala ia meragukan maka sia-sia belaka persaksiannya.
Ikhlas. Membersihkan amal dari segala macam syirik.
Jujur (shidq). Hatinya meyakini, lisannya mengucapkan dan tidak mendustakan apa yang diucapkan.
Cinta (mahabah). Mencintai kalimat ini dan isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkannya.
Tunduk (inqiyad). Patuh dengan kandungan kalimat ini, berlepas diri dari peribadatan selain kepada Allah I dan para pelakunya.
Menerima (qobul). Menerima kandungan syahadat ini dengan menyembah Allah I semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.
La Ilaha Illallah antara yang Benar dan yang Salah
Penulis: Abu ‘Uzair Boris Tanesia
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara:
syahadat La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah,
mengerjakan salat,
menunaikan zakat,
menunaikan haji ke Mekkah dan puasa di bulan Ramadhan.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Kelima hal inilah yang kita kenal dengan sebutan rukun islam.
Di antara kelima rukun islam tersebut, rukun yang paling penting adalah rukun yang pertama yaitu dua kalimat syahadat. Rukun inilah yang melandasi diterimanya keempat rukun islam serta amalan-amalan ibadah yang lain. Rukun inilah yang menjadi dasar apakah seseorang itu islam atau tidak. Namun, amat sangat disayangkan, pemahaman yang salah tentang kalimat syahadat La Ilaha Illallah beredar di sekitar kaum muslimin. Baik itu kesalahan dalam masalah keyakinan maupun amal perbuatan. Bahkan, kesalahan dalam memahami syahadat ini dapat berakibat terjatuhnya seseorang ke dalam kesyirikan. Untuk itu sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui manakah yang benar dan yang salah dari syahadat tersebut agar kita tidak terjatuh ke dalam kesalahan yang dapat berakibat terjerumusnya kita ke dalam dosa syirik. Allah berfirman yang artinya,
” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisa: 48)
Di antara kesalahan-kesalahan itu adalah:
La Ilaha Illallah = Tiada Tuhan Selain Allah ?
Di antara kesalahan dalam syahadat adalah :
memaknai La Ilaha Illallah dengan ‘Tiada Tuhan selain Allah’.
Konsekuensi dari pemaknaan ini menyebabkan setiap orang yang mengakui Allah adalah Tuhan maka ia telah masuk islam.
Padahal, kaum musyrik Quraisy pun mengakui bahwa Allahlah Tuhan mereka, Allahlah yang menciptakan langit dan bumi, Allahlah yang menghidupkan dan mematikan mereka, Allahlah yang memberi mereka rizki. Namun pengakuan mereka ini tidaklah menyebabkan mereka masuk islam. Mereka tetap dinyatakan kafir oleh Allah dan Rasul-Nya.
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap memerangi mereka.
Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah yang artinya,
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup[689] dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”
(Yunus: 31).
La Ilaha Illallah = Tiada Sesembahan Selain Allah ?
Kesalahan lainnya mengenai syahadat La Ilaha Illallah adalah memaknainya dengan Tiada sesembahan selain Allah. Pemaknaan ini jelas-jelas menyimpang dari yang dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena, konsekuensi dari makna ini ialah bahwa seluruh sesembahan yang ada di muka bumi ini adalah Allah (sebagaimana pernyataan ‘Tidak ada Nabi kecuali laki-laki’ berarti ‘Semua Nabi adalah laki-laki’).
Hal ini jelas-jelas mustahil, karena apakah mungkin Budha, Yesus, Dewa Wisnu, Dewa Krishna, Dewa Brahma, Dewi Sri dan sesembahan-sesembahan lainnya itu adalah Allah? Bahkan konsekuensi pemahaman ini lebih buruk dari pemahaman orang Nasrani yang menjadikan Nabi Isa sebagai Allah itu sendiri.
Sebagaimana firman-Nya yang artinya,
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam“.”
(Al Maidah: 72).
Pengertian yang benar dari syahadat La Ilaha Illallah
Lalu, apakah makna yang benar dari syahadat La Ilaha Illallah ?
Makna syahadat La Ilaha Illallah adalah Tiada Sesembahan yang berhak untuk disembah/diibadahi selain Allah atau dengan kata lain Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah. Pengertian ini sangat sesuai dengan kenyataan yang ada di sekitar kita.
Kita lihat bahwa sesungguhnya di dunia ini begitu banyak sesembahan yang disembah/diibadahi selain Allah. Namun semua sesembahan itu adalah batil. Sesembahan-sesembahan itu tidak layak dan tidak pantas untuk disembah/dibadahi. Hanya Allahlah satu-satunya yang berhak dan benar untuk disembah. Hal ini sebagaimana doa yang sering kita ucapkan berulang-ulang kali di dalam salat kita “Hanya kepada-Mulah kami beribadah“.
Tidak ada pembatal syahadat La Ilaha Illallah selain pindah agama?
Di antara kesalahan lainnya adalah pemahaman yang menyatakan bahwa seseorang tidak batal syahadatnya kecuali jika ia pindah agama dari islam ke agama selain islam.
Atau dengan kata lain, apabila seseorang telah bersyahadat, maka ia tetap beragama islam kecuali ia pindah agama. Hal ini jelas salah, karena bukan hanya pindah agama saja yang dapat menyebabkan seseorang batal syahadatnya dan keluar dari islam. Banyak hal-hal lain yang dapat membatalkan syahadat seseorang, di antaranya adalah berdoa kepada wali atau orang saleh (serta perbuatan-perbuatan syirik lainnya), melakukan perbuatan sihir, tidak mengkafirkan orang kafir (seperti orang Yahudi, Nasrani, Budha, Hindu, Konghucu dan lain sebagainya) atau ragu-ragu atas kekafiran mereka, membenci ajaran islam, menghina Allah, menghina Rasulullah, menghina ajaran islam, berpaling dari agama Allah, tidak mempelajari dan mengamalkannya dan lain sebagainya. Orang yang melakukan salah satu dari pembatal syahadat tersebut dan tidak bertaubat, maka ia kafir. Meskipun ia salat, puasa, zakat, pergi haji serta melakukan ibadah-ibadah lainnya.
Tahlilan
Di antara kesalahan lainnya yang tersebar di masyarakat berkaitan dengan kalimat La Ilaha Illallah adalah ritual tahlilan. Ritual ini merupakan ritual yang sering dilakukan masyarakat Indonesia untuk mengirim pahala bagi anggota keluarganya yang telah meninggal. Pada ritual ini biasanya diadakan jamuan makan yang diikuti dengan pembacaan Al Qur’an dan dzikir kalimat La Ilaha Illallah. Ritual ini merupakan ritual yang tidak ada landasannya dari islam. Ritual tahlilan ini meskipun sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita, namun sama sekali tidak ada petunjuknya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tidak didapatkan satu pun hadits yang shohih yang menyatakan Rasulullah dan para sahabatnya pernah melakukan tahlilan untuk mengirimkan pahala kepada kerabat mereka yang telah meninggal. Padahal, semasa Rasulullah hidup, banyak keluarga beliau yang meninggal, tetapi beliau tidak pernah melakukan tahlilan. Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR Muslim).
Bahkan sesungguhnya, ritual tahlilan merupakan modifikasi dari ritual masyarakat animisme dan dinamisme dahulu. Di mana mereka beranggapan bahwa apabila arwah telah keluar dari jasad maka arwah tersebut akan bergentayangan pada hari ketujuh, keempat puluh, keseratus dan keseribu. Maka untuk mengusir arwah gentayangan terebut, mereka pun membaca mantra-mantra sesuai dengan keyakinan mereka. Dan ketika islam datang, maka mantra-mantra tersebut diganti dengan kalimat La Ilaha Illallah, sehingga ritual masyarakat animisme tersebut pun berubah menjadi ritual tahlilan.
(Disarikan dari Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan & Selamatan karya Abu Ibrahim Muhammad Ali bin A. Mutholib)
Demikianlah beberapa penjelasan mengenai kesalahan seputar kalimat syahadat La Ilaha Illallah. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang dapat merealisasikan kalimat syahadat La Ilaha Illallah baik melalui amalan hati, lisan maupun amalan perbuatan kita. Karena sesungguhnya barangsiapa yang membenarkan kalimat syahadat La Ilaha Illallah hanya di dalam hati maka ia seperti paman Rasulullah Abu Thalib yang kafir karena enggan mengucapkan kalimat ini. Dan barangsiapa yang hanya mengucapkan kalimat syahadat La Ilaha Illallah di lisan tanpa amalan hati dan badan sungguh ia bagaikan kaum munafik yang mengaku-ngaku islam. Wallahu a’lam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara:
syahadat La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah,
mengerjakan salat,
menunaikan zakat,
menunaikan haji ke Mekkah dan puasa di bulan Ramadhan.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Kelima hal inilah yang kita kenal dengan sebutan rukun islam.
Di antara kelima rukun islam tersebut, rukun yang paling penting adalah rukun yang pertama yaitu dua kalimat syahadat. Rukun inilah yang melandasi diterimanya keempat rukun islam serta amalan-amalan ibadah yang lain. Rukun inilah yang menjadi dasar apakah seseorang itu islam atau tidak. Namun, amat sangat disayangkan, pemahaman yang salah tentang kalimat syahadat La Ilaha Illallah beredar di sekitar kaum muslimin. Baik itu kesalahan dalam masalah keyakinan maupun amal perbuatan. Bahkan, kesalahan dalam memahami syahadat ini dapat berakibat terjatuhnya seseorang ke dalam kesyirikan. Untuk itu sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui manakah yang benar dan yang salah dari syahadat tersebut agar kita tidak terjatuh ke dalam kesalahan yang dapat berakibat terjerumusnya kita ke dalam dosa syirik. Allah berfirman yang artinya,
” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisa: 48)
Di antara kesalahan-kesalahan itu adalah:
La Ilaha Illallah = Tiada Tuhan Selain Allah ?
Di antara kesalahan dalam syahadat adalah :
memaknai La Ilaha Illallah dengan ‘Tiada Tuhan selain Allah’.
Konsekuensi dari pemaknaan ini menyebabkan setiap orang yang mengakui Allah adalah Tuhan maka ia telah masuk islam.
Padahal, kaum musyrik Quraisy pun mengakui bahwa Allahlah Tuhan mereka, Allahlah yang menciptakan langit dan bumi, Allahlah yang menghidupkan dan mematikan mereka, Allahlah yang memberi mereka rizki. Namun pengakuan mereka ini tidaklah menyebabkan mereka masuk islam. Mereka tetap dinyatakan kafir oleh Allah dan Rasul-Nya.
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap memerangi mereka.
Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah yang artinya,
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup[689] dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”
(Yunus: 31).
La Ilaha Illallah = Tiada Sesembahan Selain Allah ?
Kesalahan lainnya mengenai syahadat La Ilaha Illallah adalah memaknainya dengan Tiada sesembahan selain Allah. Pemaknaan ini jelas-jelas menyimpang dari yang dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena, konsekuensi dari makna ini ialah bahwa seluruh sesembahan yang ada di muka bumi ini adalah Allah (sebagaimana pernyataan ‘Tidak ada Nabi kecuali laki-laki’ berarti ‘Semua Nabi adalah laki-laki’).
Hal ini jelas-jelas mustahil, karena apakah mungkin Budha, Yesus, Dewa Wisnu, Dewa Krishna, Dewa Brahma, Dewi Sri dan sesembahan-sesembahan lainnya itu adalah Allah? Bahkan konsekuensi pemahaman ini lebih buruk dari pemahaman orang Nasrani yang menjadikan Nabi Isa sebagai Allah itu sendiri.
Sebagaimana firman-Nya yang artinya,
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam“.”
(Al Maidah: 72).
Pengertian yang benar dari syahadat La Ilaha Illallah
Lalu, apakah makna yang benar dari syahadat La Ilaha Illallah ?
Makna syahadat La Ilaha Illallah adalah Tiada Sesembahan yang berhak untuk disembah/diibadahi selain Allah atau dengan kata lain Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah. Pengertian ini sangat sesuai dengan kenyataan yang ada di sekitar kita.
Kita lihat bahwa sesungguhnya di dunia ini begitu banyak sesembahan yang disembah/diibadahi selain Allah. Namun semua sesembahan itu adalah batil. Sesembahan-sesembahan itu tidak layak dan tidak pantas untuk disembah/dibadahi. Hanya Allahlah satu-satunya yang berhak dan benar untuk disembah. Hal ini sebagaimana doa yang sering kita ucapkan berulang-ulang kali di dalam salat kita “Hanya kepada-Mulah kami beribadah“.
Tidak ada pembatal syahadat La Ilaha Illallah selain pindah agama?
Di antara kesalahan lainnya adalah pemahaman yang menyatakan bahwa seseorang tidak batal syahadatnya kecuali jika ia pindah agama dari islam ke agama selain islam.
Atau dengan kata lain, apabila seseorang telah bersyahadat, maka ia tetap beragama islam kecuali ia pindah agama. Hal ini jelas salah, karena bukan hanya pindah agama saja yang dapat menyebabkan seseorang batal syahadatnya dan keluar dari islam. Banyak hal-hal lain yang dapat membatalkan syahadat seseorang, di antaranya adalah berdoa kepada wali atau orang saleh (serta perbuatan-perbuatan syirik lainnya), melakukan perbuatan sihir, tidak mengkafirkan orang kafir (seperti orang Yahudi, Nasrani, Budha, Hindu, Konghucu dan lain sebagainya) atau ragu-ragu atas kekafiran mereka, membenci ajaran islam, menghina Allah, menghina Rasulullah, menghina ajaran islam, berpaling dari agama Allah, tidak mempelajari dan mengamalkannya dan lain sebagainya. Orang yang melakukan salah satu dari pembatal syahadat tersebut dan tidak bertaubat, maka ia kafir. Meskipun ia salat, puasa, zakat, pergi haji serta melakukan ibadah-ibadah lainnya.
Tahlilan
Di antara kesalahan lainnya yang tersebar di masyarakat berkaitan dengan kalimat La Ilaha Illallah adalah ritual tahlilan. Ritual ini merupakan ritual yang sering dilakukan masyarakat Indonesia untuk mengirim pahala bagi anggota keluarganya yang telah meninggal. Pada ritual ini biasanya diadakan jamuan makan yang diikuti dengan pembacaan Al Qur’an dan dzikir kalimat La Ilaha Illallah. Ritual ini merupakan ritual yang tidak ada landasannya dari islam. Ritual tahlilan ini meskipun sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita, namun sama sekali tidak ada petunjuknya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tidak didapatkan satu pun hadits yang shohih yang menyatakan Rasulullah dan para sahabatnya pernah melakukan tahlilan untuk mengirimkan pahala kepada kerabat mereka yang telah meninggal. Padahal, semasa Rasulullah hidup, banyak keluarga beliau yang meninggal, tetapi beliau tidak pernah melakukan tahlilan. Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR Muslim).
Bahkan sesungguhnya, ritual tahlilan merupakan modifikasi dari ritual masyarakat animisme dan dinamisme dahulu. Di mana mereka beranggapan bahwa apabila arwah telah keluar dari jasad maka arwah tersebut akan bergentayangan pada hari ketujuh, keempat puluh, keseratus dan keseribu. Maka untuk mengusir arwah gentayangan terebut, mereka pun membaca mantra-mantra sesuai dengan keyakinan mereka. Dan ketika islam datang, maka mantra-mantra tersebut diganti dengan kalimat La Ilaha Illallah, sehingga ritual masyarakat animisme tersebut pun berubah menjadi ritual tahlilan.
(Disarikan dari Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan & Selamatan karya Abu Ibrahim Muhammad Ali bin A. Mutholib)
Demikianlah beberapa penjelasan mengenai kesalahan seputar kalimat syahadat La Ilaha Illallah. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang dapat merealisasikan kalimat syahadat La Ilaha Illallah baik melalui amalan hati, lisan maupun amalan perbuatan kita. Karena sesungguhnya barangsiapa yang membenarkan kalimat syahadat La Ilaha Illallah hanya di dalam hati maka ia seperti paman Rasulullah Abu Thalib yang kafir karena enggan mengucapkan kalimat ini. Dan barangsiapa yang hanya mengucapkan kalimat syahadat La Ilaha Illallah di lisan tanpa amalan hati dan badan sungguh ia bagaikan kaum munafik yang mengaku-ngaku islam. Wallahu a’lam.
TAFSIRAN TAUHID DAN SYAHADAT LAA ILAHA ILLA ALLAH
TAFSIRAN TAUHID DAN SYAHADAT LAA ILAHA ILLA ALLAH
Ditulis pada Maret 14, 2008 oleh mkisman1gemolong
Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Orang-orang yang diseru oleh kaum musyrikin itu, mereka sendiri senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepadaNya), dan mereka mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan siksa-Nya, sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” [Al-Isra': 57]“Artinya : Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya; Sesungguhnya aku melepaskan diri dari segala apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku, karena hanya Dia yang akan menunjukiku (kepada jalan kebenaran).” [Az-Zukhruf: 26-27]
“Artinya : Mereka, menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (mereka mempertuhankan pula) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka itu tiada lain hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan, tiada Sembahan yang haq selain Dia. Maha Suci Allah dari perbuatan syirik mereka.” [At-Taubah: 31]
“Artinya : Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…”[Al-Baqarah: 165]
Diriwayatkan dalam Shahih (Muslim), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Kandungan dalam tulisan ini:
[1]. Ayat dalam surah Al-Isra’. Diterangkan dalam ayat ini bantahan terhadap kaum musyrikin yang menyeru (meminta) kepada orang-orang shaleh. Maka, ayat ini mengandung sesuatu penjelasan bahwa perbuatan mereka itu syirik akbar.
[2]. Ayat dalam surah Bara’ah (At-Taubah). Diterangkan dalam ayat ini bahwa kaum Ahli Kitab telah menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan diterangkan bahwa mereka tiada lain hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan yaitu Allah. Padahal tafsiran ayat ini, yang jelas dan tidak dipermasalahkan lagi, yaitu mematuhi orang-orang alim dan rahib-rahib dalam tindakan mereka yang bertentangan dengan hukum Allah; dan maksudnya bukanlah kaum Ahli Kitab itu menyembah mereka.
Dapat diambil kesimpulan dari ayat ini bahwa tafsiran “Tauhid” dan Syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurnian ketaatan kepada Allah, dengan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya.
[3]. Kata-kata Al-Khalil Ibrahim ‘alaihissalam kepada orang-orang kafir: “Sesungguhnya aku melepaskan diri dari apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku…”
Disini beliau mengecualikan Allah dari segala sembahan. Pembebasan diri (dari segala sembahan yang bathil) dan pernyataan setia (kepada Sembahan yang haq, yaitu Allah) adalah tafsiran yang sebenarnya dari syahadat “Laa ilaha illa Allah.” Allah Ta’ala berfirman: “Dan Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya, supaya mereka kembali (kepada jalan kebenaran). (Az-Zukhruf: 28)
[4]. Ayat dalam surah Al-Baqarah yang berkenaan dengan orang-orang kafir, yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya: “Dan mereka tidak akan dapat keluar dari neraka.”
Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa mereka menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah, akan tetapi kecintaan mereka itu belum bisa memasukkan mereka kedalam Islam. Dari ayat dalam surah Al-Baqarah ini dapat diambil kesimpulan bahwa tafsiran “tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurniaan kecintaan kepada Allah yang diiringi dengan rasa rendah diri dan penghambaan hanya kepada-Nya.
Lalu bagaimana dengan orang yang mencintai sembahan-nya lebih besar daripada kecintaannya kepada Allah? Kemudian, bagaimana dengan orang yang hanya mencintai sesembahan selain Allah itu saja dan tidak mencintai Allah?
[5]. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Ini adalah termasuk hal terpenting yang menjelaskan pengertian “Laa ilaha illa Allah”. Sebab apa yang dijadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekedar mengucapkan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu, bukan pula dengan mengerti makna dan lafadznya, bukan pula dengan mengakui kebenaran kalimat tersebut, bahkan bukan juga tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi tidaklah haram dan terlindung harta dan darahnya hingga dia menambahkan kepada pengucapan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu pengingkaran kepada segala sembahan selain Allah. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.
Sungguh agung dan penting sekali tafsiran “Tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yang terkandung dalam hadits ini, sangat jelas keterangan yang dikemukakannya dan sangat meyakinkan argumentasi yang diajukan bagi orang yang menentang.
[Dikutip dari buku: "Kitab Tauhid" karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.Penerbit: Kantor Kerjasama Da'wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418H]
Ditulis pada Maret 14, 2008 oleh mkisman1gemolong
Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Orang-orang yang diseru oleh kaum musyrikin itu, mereka sendiri senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepadaNya), dan mereka mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan siksa-Nya, sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” [Al-Isra': 57]“Artinya : Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya; Sesungguhnya aku melepaskan diri dari segala apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku, karena hanya Dia yang akan menunjukiku (kepada jalan kebenaran).” [Az-Zukhruf: 26-27]
“Artinya : Mereka, menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (mereka mempertuhankan pula) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka itu tiada lain hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan, tiada Sembahan yang haq selain Dia. Maha Suci Allah dari perbuatan syirik mereka.” [At-Taubah: 31]
“Artinya : Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…”[Al-Baqarah: 165]
Diriwayatkan dalam Shahih (Muslim), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Kandungan dalam tulisan ini:
[1]. Ayat dalam surah Al-Isra’. Diterangkan dalam ayat ini bantahan terhadap kaum musyrikin yang menyeru (meminta) kepada orang-orang shaleh. Maka, ayat ini mengandung sesuatu penjelasan bahwa perbuatan mereka itu syirik akbar.
[2]. Ayat dalam surah Bara’ah (At-Taubah). Diterangkan dalam ayat ini bahwa kaum Ahli Kitab telah menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan diterangkan bahwa mereka tiada lain hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan yaitu Allah. Padahal tafsiran ayat ini, yang jelas dan tidak dipermasalahkan lagi, yaitu mematuhi orang-orang alim dan rahib-rahib dalam tindakan mereka yang bertentangan dengan hukum Allah; dan maksudnya bukanlah kaum Ahli Kitab itu menyembah mereka.
Dapat diambil kesimpulan dari ayat ini bahwa tafsiran “Tauhid” dan Syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurnian ketaatan kepada Allah, dengan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya.
[3]. Kata-kata Al-Khalil Ibrahim ‘alaihissalam kepada orang-orang kafir: “Sesungguhnya aku melepaskan diri dari apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku…”
Disini beliau mengecualikan Allah dari segala sembahan. Pembebasan diri (dari segala sembahan yang bathil) dan pernyataan setia (kepada Sembahan yang haq, yaitu Allah) adalah tafsiran yang sebenarnya dari syahadat “Laa ilaha illa Allah.” Allah Ta’ala berfirman: “Dan Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya, supaya mereka kembali (kepada jalan kebenaran). (Az-Zukhruf: 28)
[4]. Ayat dalam surah Al-Baqarah yang berkenaan dengan orang-orang kafir, yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya: “Dan mereka tidak akan dapat keluar dari neraka.”
Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa mereka menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah, akan tetapi kecintaan mereka itu belum bisa memasukkan mereka kedalam Islam. Dari ayat dalam surah Al-Baqarah ini dapat diambil kesimpulan bahwa tafsiran “tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurniaan kecintaan kepada Allah yang diiringi dengan rasa rendah diri dan penghambaan hanya kepada-Nya.
Lalu bagaimana dengan orang yang mencintai sembahan-nya lebih besar daripada kecintaannya kepada Allah? Kemudian, bagaimana dengan orang yang hanya mencintai sesembahan selain Allah itu saja dan tidak mencintai Allah?
[5]. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Ini adalah termasuk hal terpenting yang menjelaskan pengertian “Laa ilaha illa Allah”. Sebab apa yang dijadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekedar mengucapkan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu, bukan pula dengan mengerti makna dan lafadznya, bukan pula dengan mengakui kebenaran kalimat tersebut, bahkan bukan juga tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi tidaklah haram dan terlindung harta dan darahnya hingga dia menambahkan kepada pengucapan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu pengingkaran kepada segala sembahan selain Allah. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.
Sungguh agung dan penting sekali tafsiran “Tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yang terkandung dalam hadits ini, sangat jelas keterangan yang dikemukakannya dan sangat meyakinkan argumentasi yang diajukan bagi orang yang menentang.
[Dikutip dari buku: "Kitab Tauhid" karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.Penerbit: Kantor Kerjasama Da'wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418H]
Senin, 24 November 2008
Hal yang wajib diketahui bagi setiap muslim
Oleh : NURDIN. VERIN YRASKA
Fahaheel. Kuwait 21-12-2006
Kalo kita kaji dan kita cermati dari sejarah kisah kisah dak,wah para Rosul yang telah
di ceritakan didalam Al,quran karim, apa yang terjadi
Antara Mereka para Rosul bersama ummatnya.
Maka akan kita dapatkan bahwasannya mereka para Rosul semuanya menyeru ummatnya pada satu seruan yang sama :
( Q:S An Nahl 36 )
ولقد بعثنافى كل أمة رسولا أن اعبدوالله واجتنبواطغوت
Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap tiap umat
( untuk menyerukan ) " Sembahlah ALLAH (saja), dan jauhilah THOGUT itu "
ALLAH mengutus Rosul kepa tiap tiap ummatnya dari Rosul yang pertama :
Nabi Nuh as, Nabi Hud as, Nabi Saleh as, Nabi Suaeb as, Nabi Ibrahim as sampai pada Nabi yang terakhir yang diutus untuk seluruh ummat manusia yaitu Rosulullo SAW, untuk mengajak kepada penyembahan hanya kepada ALLAH swt semata, dan mencegah mereka melakukan perbuatan Syrik.
Sekalipun syariat mereka berbeda beda, seruan dakwah yang dilakukan oleh semua Rosul kepada ummatnya itu adalah dakwah kepada TAUHID yaitu :
PEMURNIAN IBADAH hanya kepada ALLAH semata
(bertakwa dan taat kepada NYA serta taat kepada Rosulnya)
Pengertian kata Ibadah bukan hanya masalah ritual saja seperti :
Sholat, Puasa, Haji, Ini memahaminya dalam artian yang sempit .
Pengertian Ibadah tidak bisa dibatasi .
Ibadah bukan urusan Pribadi, seperti pemahaman orang orang Islam Sekuler,
yang memisahkan urusan Agama dengan yang lain, seperti :
Aktifitas, Pribadi, sampai KeNegaraan.
pengertian Ibadah itu sangat luas termasuk melakukan ursan urusan yang lain.
selama tidak bertentangan dengan aturan aturan Allah dan Rasulnya ( Aalquran dan Hadist ).
Ibadah bisa dengan kata katanya, bisa dengan Pikirannya, bisa juga dengan apa saja dari anggota tubuh yang dimiliki. Ibdah juga berarti segala perkataan dan perbuatan, baik zhahir maupun batin, yang dicintai dan diridoi oleh Allah swt. Dan suatu amal ibadah diniati dengan hati yang ikhlas semata mata karena Allah dan mengikuti tuntunan Rosululloh saw. Jadi pengertian Ibadah yaitu :
Penghambaan diri kepada Allah swt dengan cara mentaati segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya sebagaimana telah disampaikan oleh Rasululloh saw.
Ibadah kepada Allah SWT, Tidak akan terwujud, dengan sebenar-benarnya kecuali dengan mengingkari THOGUT dan inilah pengertian firman Allah Taala,
(Surat Al-Baqorah 256) :
yang artinya :
Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat.
Menurut tafsir Ibn Qoyyim :
Thogut adalah setiap yang disembah/diagungkan/ditaati/dipatuhi selain Allah dimana dia rela dengan peribadatan yang dilakukan oleh penyembah dan pengikutnya, atau rela dengan ketaatan orang yang mentaati dalam hal maksiat kepada Allah dan RasulNya. Baik yang disembah, diagungkan, ditaati, berupa manusia, syetan, batu dan sebagainya.
Bentuk Thogut amat banyak,
tetapi pemimpin mereka ada 5, yaitu :
1. Syetan
Thogut ini selalu menyeru beribadah kepada selain Allah.
Dalilnya didalam
(surat yasin 60) :
yang artinya :
ألم أهد إليكم بني أدم ان لا تعبدوالشيطن إنه لكم عد ومبن
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan ? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
(Surat An Nisa 60 ):
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut [1], padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka [dengan] penyesatan yang sejauh jauhnya.
2. Orang yang mengaku mengetahui Ilmu Ghaib
Allah berfirman didalam
(surat Annaml ayat 65) :
artinya :
Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.
3 Pengusa yang zhalim yang merubah hukum-hukum Allah SWT
Seperti peletak undang-undang yang tidak sejalan dengan Islam. Mreka membuat undang-undang yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman di
(surat Assyuraa ayat 21) :
artinya :
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?.
4. Hakim yang tidak memutuskan menurut apa yang telah
diturunkan Allah SWT.
Jika ia meyakini bahwa Hukum-hukum yang telah diturunkan Allah SWT tidak sesuai lagi, atau dia membolehkan diberlakukannya hukum yang lain. Allah SWT berfirman di dalam
(surat Al Maidah ayat 44) :
yang artinya :
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
5. Seorang atau sesuatu yang disembah dan diminta pertolongan oleh
Manusia selain Allah SWT sedang Ia rela dengan yang demikian.
Dalilnya adalah:
(Surat Al Anbiya ayat 29) :
Artinya :
Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah", maka orang itu kami beri balasan dengan jahannam, demikian kami memberikan pembalasan kepada orang orang zolim.
وقال الشعبي : كان بين رجل من المنا فقين ور جل من اليهود خصومه
فقال اليهود: نتحاكم إلى محمد' عرف أنه لا يأخذ الرشوة ' وقل المنافق : نتحاكم إلى اليهود' لعلمه أنهم يأخذون الرشوة' فاتفقا أن يأتيا كاهنا في جهينة فيتحاكما إليه' فنزلت : ألم تر إلى الذين يزعمون الاية
Asy-Sya'bi menuturkan :
Pernah terjadi pertengkaran antara seorang munafik dan seorang Yahudi itu :
Orang yahudi itu berkata :
"Mari kita berhakim kepada Muhammad" - Karena mengerti bahwa beliau tidak mengambil risywah (uang sogok). Sedang si munafik berkata : "Marilah kita berhakim kepada orang orang Yahudi " - Karena ia tahu bahwa mereka mau menerima risywah. Maka bersepakatlah keduanya untuk datang berhakim kepada seorang dukun di Juhainah.
Lalu turunlah ayat :
ألم تر إلى الذين يزعمون انهم ءامنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطن أن يضلهم ضللاً بعيداً (60) وإذا قيل لهم تعالوا إلى ما أنزل الله وإلى الرسول رأيت
المنفقين يصدون عنك صدوداً (61) فكيف إذا أصبتهم مصيبة بما قدمت أيديهم ثم جاءوك يحلفون بالله إن أردنا إلا إحسنا وتوفيقا
Tidakkah kamu memperhatikan orang orang yang mengaku bahwa dirinya telah beriman dengan apa yang diturunkan kepadamu dan dengan apa yang diturunkan sebelummu ? Mereka hendak bertahkim kepada thoghut, padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thoghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka : "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang telah Allah turunkan dan kepada hukum Rasul" niscaya kamu lihat orang orang munafik itu menghalangi (manusia) dari (mendekati) kamu dengan sekuat kuatnya. Maka bagaimanakah halnya, apabila mereka ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah :" Demi Allah, sekali kali kami tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna ".
(Surah: An-Nisa : 60,61,62)
وقيل ؛ (نزلت في رجلين اختصما ) فقآل أحدهما : نترافع الى النبي صلى الله عليه وسلم , وقال الآخره :الى كعب بن الأشرف, ثم ترافعا إلى عمر ,فذكر له أحدهما القصه ,فقال للذي لم يرضى برسول الله صلى الله عليه وسلم :أكذلك؟ قال : نعم, فضربه بالسيف فقتله ))
Dikatakan pula bahwa ayat tersebut diatas diturunkan berkenan dengan dua orang yang bertengkar, salah seorang mengatakan :
Marilah sama sama mengadukan kepada Nabi saw, sedang yang lain lagi mengatakan :
Kepada Ka'b Al-Asyraf kemudian keduanya mengadukan perkara mereka kepada Umar dan salah seorang dari mereka berduapun menjelaskan kepadnya tentang kasus yang terjadi. Lalu Umar bertanya kepada orang yang tidak rela dengan keputusan Rasulullah saw : Demikiankan halnya ?. Ia menjawab : Ya, Akhirnya dibunuhlah orang itu oleh Umar dengan dipancung pakai pedang.
Ayat ini menunjukkan kewajiban berhakim kepada Kitabullah dan Rasulullah, dan menerima hukum keduanya dengan ridha dan tunduk. Barang siapa yang berhakim kepada selainnya, berarti berhakim kepada thoghut, sekalipun diberi sebutan apa saja.
Dan menunjukkan kewajiban mengingkari thoghut serta menjauhkan diri dan waspada terhadap tipu daya syaitan. Menunjukkan pula bahwa barang siapa diajak berhakim kepada hukum Allah dan Rasulnya haruslah menerima : Apabila menolak maka dia adalah munafik, dan apapun dalih yang dikemukakannya seperti menghendaki penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna bukanlah merupakan dasar baginya untuk menerima selain hukum Allah dan Rasul-Nya.
وإذا قيل لهم لا تفسدوا في الأرض قالوا إنما نحن مصلحون
Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang orang munafilk), : " Janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi ini ", Mereka menjawab : " Sesungguhnya kami orang orang yang mengadakan perbaikan ".
(Surah Al-Bakaroh: 11)
ولا تفسدوافى الأرض بعد إصلحها
Dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi,
sesudah (Allah) memperbaikinya ......
(Surah Al-A'raf : 56)
أفحكم الجهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يقنون
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki : padahal tiada yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang orang yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang orang yang yakin ?
Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang mengajak berhukum kepada selain hukum yang telah diturunkan Allah, maka Ia telah berbuat kerusakan yang sangat berat dimuka bumi,orang yang menghendaki selain hukum Allah, berarti ia menghendaki Hukum jahiliyah, dan dalil mengadakan perbaikan bukan alasan sama sekali untuk meninggalkan hukum Allah . Menunjukkan pula bahwa orang yang sakit hatinya akan memutar balikkan nilai nilai dimana yang haq dijadikan bathil dan yang bathil dijadikan haq.
Pengertian Iman yang benar dan Iman yang bohong, Iman yang benar yaitu :
Apabila berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw, dan menerima hukumnya dengan tunduk dan ridha. Dan Iman yang bohong yaitu : mengaku beriman tetapi tidak mau berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw
عن عبد الله بن عمرو : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم
قل : لايؤ من أحد كم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
قل النووي : حديث صحيح رويناه في كتاب الحجة بإسناد صحيح
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr Radiyallahu Anhuma
Bahwa Rasulullah saw bersabda :
Tidaklah beriman (sempurna) seseorang diantara kamu, sebelum keinginan dirinya menuruti apa yang telah Aku bawa (dari Allah).
(Kata An-Nawawi : Hadist shahih kami riwayatkan dariKitab Al-Hujjah dengan isnad shahih).
Seseorang tidak akan beriman sempurna dengan sebenar benarnya sebelum keinginan dirinya mengikuti tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah saw. Setiap Muslim wajib mengingkari thoghut sehingga Ia menjadi seorang mukmin yang lurus . Ibadah kepada Allah swt sama sekali tidak bermanfaat kecuali dengan menjauhi beribadah kepada selain Nya dan mengingkari thoghut.
Fahaheel. Kuwait 21-12-2006
Kalo kita kaji dan kita cermati dari sejarah kisah kisah dak,wah para Rosul yang telah
di ceritakan didalam Al,quran karim, apa yang terjadi
Antara Mereka para Rosul bersama ummatnya.
Maka akan kita dapatkan bahwasannya mereka para Rosul semuanya menyeru ummatnya pada satu seruan yang sama :
( Q:S An Nahl 36 )
ولقد بعثنافى كل أمة رسولا أن اعبدوالله واجتنبواطغوت
Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap tiap umat
( untuk menyerukan ) " Sembahlah ALLAH (saja), dan jauhilah THOGUT itu "
ALLAH mengutus Rosul kepa tiap tiap ummatnya dari Rosul yang pertama :
Nabi Nuh as, Nabi Hud as, Nabi Saleh as, Nabi Suaeb as, Nabi Ibrahim as sampai pada Nabi yang terakhir yang diutus untuk seluruh ummat manusia yaitu Rosulullo SAW, untuk mengajak kepada penyembahan hanya kepada ALLAH swt semata, dan mencegah mereka melakukan perbuatan Syrik.
Sekalipun syariat mereka berbeda beda, seruan dakwah yang dilakukan oleh semua Rosul kepada ummatnya itu adalah dakwah kepada TAUHID yaitu :
PEMURNIAN IBADAH hanya kepada ALLAH semata
(bertakwa dan taat kepada NYA serta taat kepada Rosulnya)
Pengertian kata Ibadah bukan hanya masalah ritual saja seperti :
Sholat, Puasa, Haji, Ini memahaminya dalam artian yang sempit .
Pengertian Ibadah tidak bisa dibatasi .
Ibadah bukan urusan Pribadi, seperti pemahaman orang orang Islam Sekuler,
yang memisahkan urusan Agama dengan yang lain, seperti :
Aktifitas, Pribadi, sampai KeNegaraan.
pengertian Ibadah itu sangat luas termasuk melakukan ursan urusan yang lain.
selama tidak bertentangan dengan aturan aturan Allah dan Rasulnya ( Aalquran dan Hadist ).
Ibadah bisa dengan kata katanya, bisa dengan Pikirannya, bisa juga dengan apa saja dari anggota tubuh yang dimiliki. Ibdah juga berarti segala perkataan dan perbuatan, baik zhahir maupun batin, yang dicintai dan diridoi oleh Allah swt. Dan suatu amal ibadah diniati dengan hati yang ikhlas semata mata karena Allah dan mengikuti tuntunan Rosululloh saw. Jadi pengertian Ibadah yaitu :
Penghambaan diri kepada Allah swt dengan cara mentaati segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya sebagaimana telah disampaikan oleh Rasululloh saw.
Ibadah kepada Allah SWT, Tidak akan terwujud, dengan sebenar-benarnya kecuali dengan mengingkari THOGUT dan inilah pengertian firman Allah Taala,
(Surat Al-Baqorah 256) :
yang artinya :
Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat.
Menurut tafsir Ibn Qoyyim :
Thogut adalah setiap yang disembah/diagungkan/ditaati/dipatuhi selain Allah dimana dia rela dengan peribadatan yang dilakukan oleh penyembah dan pengikutnya, atau rela dengan ketaatan orang yang mentaati dalam hal maksiat kepada Allah dan RasulNya. Baik yang disembah, diagungkan, ditaati, berupa manusia, syetan, batu dan sebagainya.
Bentuk Thogut amat banyak,
tetapi pemimpin mereka ada 5, yaitu :
1. Syetan
Thogut ini selalu menyeru beribadah kepada selain Allah.
Dalilnya didalam
(surat yasin 60) :
yang artinya :
ألم أهد إليكم بني أدم ان لا تعبدوالشيطن إنه لكم عد ومبن
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan ? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
(Surat An Nisa 60 ):
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut [1], padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka [dengan] penyesatan yang sejauh jauhnya.
2. Orang yang mengaku mengetahui Ilmu Ghaib
Allah berfirman didalam
(surat Annaml ayat 65) :
artinya :
Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.
3 Pengusa yang zhalim yang merubah hukum-hukum Allah SWT
Seperti peletak undang-undang yang tidak sejalan dengan Islam. Mreka membuat undang-undang yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman di
(surat Assyuraa ayat 21) :
artinya :
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?.
4. Hakim yang tidak memutuskan menurut apa yang telah
diturunkan Allah SWT.
Jika ia meyakini bahwa Hukum-hukum yang telah diturunkan Allah SWT tidak sesuai lagi, atau dia membolehkan diberlakukannya hukum yang lain. Allah SWT berfirman di dalam
(surat Al Maidah ayat 44) :
yang artinya :
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
5. Seorang atau sesuatu yang disembah dan diminta pertolongan oleh
Manusia selain Allah SWT sedang Ia rela dengan yang demikian.
Dalilnya adalah:
(Surat Al Anbiya ayat 29) :
Artinya :
Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah", maka orang itu kami beri balasan dengan jahannam, demikian kami memberikan pembalasan kepada orang orang zolim.
وقال الشعبي : كان بين رجل من المنا فقين ور جل من اليهود خصومه
فقال اليهود: نتحاكم إلى محمد' عرف أنه لا يأخذ الرشوة ' وقل المنافق : نتحاكم إلى اليهود' لعلمه أنهم يأخذون الرشوة' فاتفقا أن يأتيا كاهنا في جهينة فيتحاكما إليه' فنزلت : ألم تر إلى الذين يزعمون الاية
Asy-Sya'bi menuturkan :
Pernah terjadi pertengkaran antara seorang munafik dan seorang Yahudi itu :
Orang yahudi itu berkata :
"Mari kita berhakim kepada Muhammad" - Karena mengerti bahwa beliau tidak mengambil risywah (uang sogok). Sedang si munafik berkata : "Marilah kita berhakim kepada orang orang Yahudi " - Karena ia tahu bahwa mereka mau menerima risywah. Maka bersepakatlah keduanya untuk datang berhakim kepada seorang dukun di Juhainah.
Lalu turunlah ayat :
ألم تر إلى الذين يزعمون انهم ءامنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطن أن يضلهم ضللاً بعيداً (60) وإذا قيل لهم تعالوا إلى ما أنزل الله وإلى الرسول رأيت
المنفقين يصدون عنك صدوداً (61) فكيف إذا أصبتهم مصيبة بما قدمت أيديهم ثم جاءوك يحلفون بالله إن أردنا إلا إحسنا وتوفيقا
Tidakkah kamu memperhatikan orang orang yang mengaku bahwa dirinya telah beriman dengan apa yang diturunkan kepadamu dan dengan apa yang diturunkan sebelummu ? Mereka hendak bertahkim kepada thoghut, padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thoghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka : "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang telah Allah turunkan dan kepada hukum Rasul" niscaya kamu lihat orang orang munafik itu menghalangi (manusia) dari (mendekati) kamu dengan sekuat kuatnya. Maka bagaimanakah halnya, apabila mereka ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah :" Demi Allah, sekali kali kami tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna ".
(Surah: An-Nisa : 60,61,62)
وقيل ؛ (نزلت في رجلين اختصما ) فقآل أحدهما : نترافع الى النبي صلى الله عليه وسلم , وقال الآخره :الى كعب بن الأشرف, ثم ترافعا إلى عمر ,فذكر له أحدهما القصه ,فقال للذي لم يرضى برسول الله صلى الله عليه وسلم :أكذلك؟ قال : نعم, فضربه بالسيف فقتله ))
Dikatakan pula bahwa ayat tersebut diatas diturunkan berkenan dengan dua orang yang bertengkar, salah seorang mengatakan :
Marilah sama sama mengadukan kepada Nabi saw, sedang yang lain lagi mengatakan :
Kepada Ka'b Al-Asyraf kemudian keduanya mengadukan perkara mereka kepada Umar dan salah seorang dari mereka berduapun menjelaskan kepadnya tentang kasus yang terjadi. Lalu Umar bertanya kepada orang yang tidak rela dengan keputusan Rasulullah saw : Demikiankan halnya ?. Ia menjawab : Ya, Akhirnya dibunuhlah orang itu oleh Umar dengan dipancung pakai pedang.
Ayat ini menunjukkan kewajiban berhakim kepada Kitabullah dan Rasulullah, dan menerima hukum keduanya dengan ridha dan tunduk. Barang siapa yang berhakim kepada selainnya, berarti berhakim kepada thoghut, sekalipun diberi sebutan apa saja.
Dan menunjukkan kewajiban mengingkari thoghut serta menjauhkan diri dan waspada terhadap tipu daya syaitan. Menunjukkan pula bahwa barang siapa diajak berhakim kepada hukum Allah dan Rasulnya haruslah menerima : Apabila menolak maka dia adalah munafik, dan apapun dalih yang dikemukakannya seperti menghendaki penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna bukanlah merupakan dasar baginya untuk menerima selain hukum Allah dan Rasul-Nya.
وإذا قيل لهم لا تفسدوا في الأرض قالوا إنما نحن مصلحون
Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang orang munafilk), : " Janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi ini ", Mereka menjawab : " Sesungguhnya kami orang orang yang mengadakan perbaikan ".
(Surah Al-Bakaroh: 11)
ولا تفسدوافى الأرض بعد إصلحها
Dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi,
sesudah (Allah) memperbaikinya ......
(Surah Al-A'raf : 56)
أفحكم الجهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يقنون
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki : padahal tiada yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang orang yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang orang yang yakin ?
Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang mengajak berhukum kepada selain hukum yang telah diturunkan Allah, maka Ia telah berbuat kerusakan yang sangat berat dimuka bumi,orang yang menghendaki selain hukum Allah, berarti ia menghendaki Hukum jahiliyah, dan dalil mengadakan perbaikan bukan alasan sama sekali untuk meninggalkan hukum Allah . Menunjukkan pula bahwa orang yang sakit hatinya akan memutar balikkan nilai nilai dimana yang haq dijadikan bathil dan yang bathil dijadikan haq.
Pengertian Iman yang benar dan Iman yang bohong, Iman yang benar yaitu :
Apabila berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw, dan menerima hukumnya dengan tunduk dan ridha. Dan Iman yang bohong yaitu : mengaku beriman tetapi tidak mau berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw
عن عبد الله بن عمرو : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم
قل : لايؤ من أحد كم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
قل النووي : حديث صحيح رويناه في كتاب الحجة بإسناد صحيح
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr Radiyallahu Anhuma
Bahwa Rasulullah saw bersabda :
Tidaklah beriman (sempurna) seseorang diantara kamu, sebelum keinginan dirinya menuruti apa yang telah Aku bawa (dari Allah).
(Kata An-Nawawi : Hadist shahih kami riwayatkan dariKitab Al-Hujjah dengan isnad shahih).
Seseorang tidak akan beriman sempurna dengan sebenar benarnya sebelum keinginan dirinya mengikuti tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah saw. Setiap Muslim wajib mengingkari thoghut sehingga Ia menjadi seorang mukmin yang lurus . Ibadah kepada Allah swt sama sekali tidak bermanfaat kecuali dengan menjauhi beribadah kepada selain Nya dan mengingkari thoghut.
Langganan:
Komentar (Atom)