Oleh : NURDIN. VERIN YRASKA
Fahaheel. Kuwait 21-12-2006
Kalo kita kaji dan kita cermati dari sejarah kisah kisah dak,wah para Rosul yang telah
di ceritakan didalam Al,quran karim, apa yang terjadi
Antara Mereka para Rosul bersama ummatnya.
Maka akan kita dapatkan bahwasannya mereka para Rosul semuanya menyeru ummatnya pada satu seruan yang sama :
( Q:S An Nahl 36 )
ولقد بعثنافى كل أمة رسولا أن اعبدوالله واجتنبواطغوت
Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap tiap umat
( untuk menyerukan ) " Sembahlah ALLAH (saja), dan jauhilah THOGUT itu "
ALLAH mengutus Rosul kepa tiap tiap ummatnya dari Rosul yang pertama :
Nabi Nuh as, Nabi Hud as, Nabi Saleh as, Nabi Suaeb as, Nabi Ibrahim as sampai pada Nabi yang terakhir yang diutus untuk seluruh ummat manusia yaitu Rosulullo SAW, untuk mengajak kepada penyembahan hanya kepada ALLAH swt semata, dan mencegah mereka melakukan perbuatan Syrik.
Sekalipun syariat mereka berbeda beda, seruan dakwah yang dilakukan oleh semua Rosul kepada ummatnya itu adalah dakwah kepada TAUHID yaitu :
PEMURNIAN IBADAH hanya kepada ALLAH semata
(bertakwa dan taat kepada NYA serta taat kepada Rosulnya)
Pengertian kata Ibadah bukan hanya masalah ritual saja seperti :
Sholat, Puasa, Haji, Ini memahaminya dalam artian yang sempit .
Pengertian Ibadah tidak bisa dibatasi .
Ibadah bukan urusan Pribadi, seperti pemahaman orang orang Islam Sekuler,
yang memisahkan urusan Agama dengan yang lain, seperti :
Aktifitas, Pribadi, sampai KeNegaraan.
pengertian Ibadah itu sangat luas termasuk melakukan ursan urusan yang lain.
selama tidak bertentangan dengan aturan aturan Allah dan Rasulnya ( Aalquran dan Hadist ).
Ibadah bisa dengan kata katanya, bisa dengan Pikirannya, bisa juga dengan apa saja dari anggota tubuh yang dimiliki. Ibdah juga berarti segala perkataan dan perbuatan, baik zhahir maupun batin, yang dicintai dan diridoi oleh Allah swt. Dan suatu amal ibadah diniati dengan hati yang ikhlas semata mata karena Allah dan mengikuti tuntunan Rosululloh saw. Jadi pengertian Ibadah yaitu :
Penghambaan diri kepada Allah swt dengan cara mentaati segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya sebagaimana telah disampaikan oleh Rasululloh saw.
Ibadah kepada Allah SWT, Tidak akan terwujud, dengan sebenar-benarnya kecuali dengan mengingkari THOGUT dan inilah pengertian firman Allah Taala,
(Surat Al-Baqorah 256) :
yang artinya :
Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat.
Menurut tafsir Ibn Qoyyim :
Thogut adalah setiap yang disembah/diagungkan/ditaati/dipatuhi selain Allah dimana dia rela dengan peribadatan yang dilakukan oleh penyembah dan pengikutnya, atau rela dengan ketaatan orang yang mentaati dalam hal maksiat kepada Allah dan RasulNya. Baik yang disembah, diagungkan, ditaati, berupa manusia, syetan, batu dan sebagainya.
Bentuk Thogut amat banyak,
tetapi pemimpin mereka ada 5, yaitu :
1. Syetan
Thogut ini selalu menyeru beribadah kepada selain Allah.
Dalilnya didalam
(surat yasin 60) :
yang artinya :
ألم أهد إليكم بني أدم ان لا تعبدوالشيطن إنه لكم عد ومبن
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan ? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
(Surat An Nisa 60 ):
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut [1], padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka [dengan] penyesatan yang sejauh jauhnya.
2. Orang yang mengaku mengetahui Ilmu Ghaib
Allah berfirman didalam
(surat Annaml ayat 65) :
artinya :
Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.
3 Pengusa yang zhalim yang merubah hukum-hukum Allah SWT
Seperti peletak undang-undang yang tidak sejalan dengan Islam. Mreka membuat undang-undang yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman di
(surat Assyuraa ayat 21) :
artinya :
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?.
4. Hakim yang tidak memutuskan menurut apa yang telah
diturunkan Allah SWT.
Jika ia meyakini bahwa Hukum-hukum yang telah diturunkan Allah SWT tidak sesuai lagi, atau dia membolehkan diberlakukannya hukum yang lain. Allah SWT berfirman di dalam
(surat Al Maidah ayat 44) :
yang artinya :
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
5. Seorang atau sesuatu yang disembah dan diminta pertolongan oleh
Manusia selain Allah SWT sedang Ia rela dengan yang demikian.
Dalilnya adalah:
(Surat Al Anbiya ayat 29) :
Artinya :
Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah", maka orang itu kami beri balasan dengan jahannam, demikian kami memberikan pembalasan kepada orang orang zolim.
وقال الشعبي : كان بين رجل من المنا فقين ور جل من اليهود خصومه
فقال اليهود: نتحاكم إلى محمد' عرف أنه لا يأخذ الرشوة ' وقل المنافق : نتحاكم إلى اليهود' لعلمه أنهم يأخذون الرشوة' فاتفقا أن يأتيا كاهنا في جهينة فيتحاكما إليه' فنزلت : ألم تر إلى الذين يزعمون الاية
Asy-Sya'bi menuturkan :
Pernah terjadi pertengkaran antara seorang munafik dan seorang Yahudi itu :
Orang yahudi itu berkata :
"Mari kita berhakim kepada Muhammad" - Karena mengerti bahwa beliau tidak mengambil risywah (uang sogok). Sedang si munafik berkata : "Marilah kita berhakim kepada orang orang Yahudi " - Karena ia tahu bahwa mereka mau menerima risywah. Maka bersepakatlah keduanya untuk datang berhakim kepada seorang dukun di Juhainah.
Lalu turunlah ayat :
ألم تر إلى الذين يزعمون انهم ءامنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطن أن يضلهم ضللاً بعيداً (60) وإذا قيل لهم تعالوا إلى ما أنزل الله وإلى الرسول رأيت
المنفقين يصدون عنك صدوداً (61) فكيف إذا أصبتهم مصيبة بما قدمت أيديهم ثم جاءوك يحلفون بالله إن أردنا إلا إحسنا وتوفيقا
Tidakkah kamu memperhatikan orang orang yang mengaku bahwa dirinya telah beriman dengan apa yang diturunkan kepadamu dan dengan apa yang diturunkan sebelummu ? Mereka hendak bertahkim kepada thoghut, padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thoghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka : "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang telah Allah turunkan dan kepada hukum Rasul" niscaya kamu lihat orang orang munafik itu menghalangi (manusia) dari (mendekati) kamu dengan sekuat kuatnya. Maka bagaimanakah halnya, apabila mereka ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah :" Demi Allah, sekali kali kami tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna ".
(Surah: An-Nisa : 60,61,62)
وقيل ؛ (نزلت في رجلين اختصما ) فقآل أحدهما : نترافع الى النبي صلى الله عليه وسلم , وقال الآخره :الى كعب بن الأشرف, ثم ترافعا إلى عمر ,فذكر له أحدهما القصه ,فقال للذي لم يرضى برسول الله صلى الله عليه وسلم :أكذلك؟ قال : نعم, فضربه بالسيف فقتله ))
Dikatakan pula bahwa ayat tersebut diatas diturunkan berkenan dengan dua orang yang bertengkar, salah seorang mengatakan :
Marilah sama sama mengadukan kepada Nabi saw, sedang yang lain lagi mengatakan :
Kepada Ka'b Al-Asyraf kemudian keduanya mengadukan perkara mereka kepada Umar dan salah seorang dari mereka berduapun menjelaskan kepadnya tentang kasus yang terjadi. Lalu Umar bertanya kepada orang yang tidak rela dengan keputusan Rasulullah saw : Demikiankan halnya ?. Ia menjawab : Ya, Akhirnya dibunuhlah orang itu oleh Umar dengan dipancung pakai pedang.
Ayat ini menunjukkan kewajiban berhakim kepada Kitabullah dan Rasulullah, dan menerima hukum keduanya dengan ridha dan tunduk. Barang siapa yang berhakim kepada selainnya, berarti berhakim kepada thoghut, sekalipun diberi sebutan apa saja.
Dan menunjukkan kewajiban mengingkari thoghut serta menjauhkan diri dan waspada terhadap tipu daya syaitan. Menunjukkan pula bahwa barang siapa diajak berhakim kepada hukum Allah dan Rasulnya haruslah menerima : Apabila menolak maka dia adalah munafik, dan apapun dalih yang dikemukakannya seperti menghendaki penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna bukanlah merupakan dasar baginya untuk menerima selain hukum Allah dan Rasul-Nya.
وإذا قيل لهم لا تفسدوا في الأرض قالوا إنما نحن مصلحون
Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang orang munafilk), : " Janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi ini ", Mereka menjawab : " Sesungguhnya kami orang orang yang mengadakan perbaikan ".
(Surah Al-Bakaroh: 11)
ولا تفسدوافى الأرض بعد إصلحها
Dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi,
sesudah (Allah) memperbaikinya ......
(Surah Al-A'raf : 56)
أفحكم الجهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يقنون
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki : padahal tiada yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang orang yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang orang yang yakin ?
Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang mengajak berhukum kepada selain hukum yang telah diturunkan Allah, maka Ia telah berbuat kerusakan yang sangat berat dimuka bumi,orang yang menghendaki selain hukum Allah, berarti ia menghendaki Hukum jahiliyah, dan dalil mengadakan perbaikan bukan alasan sama sekali untuk meninggalkan hukum Allah . Menunjukkan pula bahwa orang yang sakit hatinya akan memutar balikkan nilai nilai dimana yang haq dijadikan bathil dan yang bathil dijadikan haq.
Pengertian Iman yang benar dan Iman yang bohong, Iman yang benar yaitu :
Apabila berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw, dan menerima hukumnya dengan tunduk dan ridha. Dan Iman yang bohong yaitu : mengaku beriman tetapi tidak mau berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw
عن عبد الله بن عمرو : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم
قل : لايؤ من أحد كم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
قل النووي : حديث صحيح رويناه في كتاب الحجة بإسناد صحيح
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr Radiyallahu Anhuma
Bahwa Rasulullah saw bersabda :
Tidaklah beriman (sempurna) seseorang diantara kamu, sebelum keinginan dirinya menuruti apa yang telah Aku bawa (dari Allah).
(Kata An-Nawawi : Hadist shahih kami riwayatkan dariKitab Al-Hujjah dengan isnad shahih).
Seseorang tidak akan beriman sempurna dengan sebenar benarnya sebelum keinginan dirinya mengikuti tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah saw. Setiap Muslim wajib mengingkari thoghut sehingga Ia menjadi seorang mukmin yang lurus . Ibadah kepada Allah swt sama sekali tidak bermanfaat kecuali dengan menjauhi beribadah kepada selain Nya dan mengingkari thoghut.
Senin, 24 November 2008
Jumat, 21 November 2008
MACAM-MACAM TAUHID
OlehSyaikh : Shalih bin Fauzan Al-Fauzan.
Pertanyaan ?
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya :
Disebabkan kebodohan saya tentang macam-macam tauhid dan apa hakikatnya, sementara itu saya ingin berlepas diri dari (hal-hal yang bertentangan dengan tauhid, yaitu) kesyirikan, maka saya mengharapkan jawaban dari pertanyaan berikut ini. Ada berapa macam tauhid itu, dan bagaimana penjelasannya masing-masing ?
Jawaban :
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menambah semangat anda untuk mencari kebaikan, dan sungguh hal ini menunjukkan betapa besar perhatian anda terhadap masalah aqidah.
Memang wajib bagi setiap muslim memperhatikan aqidahnya karena aqidah merupakan asas (fondasi) dari amal perbuatannya.
Amal perbuatan itu dikatakan benar dan akan mendapatkan pahala hanya jika memenuhi dua Syarat berikut :
Pertama :
Amal tersebut haruslah dibangun di atas aqidah yang benar (ikhlas).
Kedua :
Harus sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (mutaba'ah).
Perhatian anda terhadap aqidah, yakni yang berkaitan dengan pengetahuan tentang macam-macam tauhid, menunjukkan anda bersemangat meraih kebaikan -alhamdulillah-, menginginkan kebenaran dan kelurusan aqidah yang wajib bagi setiap muslim.
Berkenan dengan macam-macam tauhid,
maka saya sampaikan bahwa: Tauhid ada tiga macam.
Pertama : Tauhid Rububiyah.
Artinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal perbuatanNya.
Seperti ( mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan bahaya, memberi manfaat, dan lain-lain )
yang merupakan perbuatan-perbuatan khusus Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Seorang muslim haruslah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak memiliki sekutu dalam RububiyahNya.
Kedua : Tauhid Uluhiyah.
Artinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam jenis-jenis peribadatan yang telah disyariatkan.
Seperti ; ( shalat, puasa, zakat, haji, do'a, nadzar, sembelihan, berharap, cemas, takut, dan sebagainya yang tergolong jenis ibadah).
Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal-hal tersebut dinamakan Tauhid Uluhiyah.
Dan tauhid jenis inilah yang dituntut oleh Allah Subhanhu wa Ta'ala dari hamba-hambaNya. Karena tauhid jenis pertama, yaitu Tauhid Rububiyah, setiap orang (termasuk jin) mengakuinya, sekalipun orang-orang musyrik yang Allah Subhanahu wa Ta'ala utus Rasulullah kepada mereka. Mereka mayakini Tauhid Rububiyah ini, sebagaiman tersebut dalam
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala."Artinya :
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, Siapakah yang menciptakan mereka ? niscaya mereka menjawab Allah. Maka bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)
". [Al-Zukhruf : 87]"
Artinya :
Katakanlah, Siapakah yang mempunyai tujuh langit dan mempunyai Arsy yang besar ? Mereka akan menjawab, Kepunyaan Allah. Katakanlah, Mengapa kamu tidak bertaqwa?"
[Al-Mu'minun : 86-87]
Masih banyak ayat-ayat yang menunjukkan bahwa
orang-orang musyrik meyakini Tauhid Rububiyah. Akan tetapi, sebenarnya yang dituntut dari mereka adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah. Jika mereka mengikrarkan Tauhid Rububiyah, maka hendaknya juga mengakui Tauhid Uluhiyah (ibadah). Sungguh, Rasulullah (diutus untuk)menyeru mereka agar meyakini Tauhid Uluhiyah.
Hal ini disebutkan dalam firmanNya Subhanahu wa Ta'ala.
Artinya :
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut, lalu diantara umat-umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula orang-orang yang telah dipastikan sesat. Oleh karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (para rasul)"
[An-Nahl ; 36].
Setiap rasul menyeru manusia agar meyakini Tauhid Uluhiyah. Adapun Tauhid Rububiyah, karena merupakan fitrah, maka belumlah cukup kalau seseorang hanya meyakini tauhid ini saja.
Ketiga : Tauhid Asma was Sifat.
Yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-saifat untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diriNya maupun yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Serta meniadakan kekurangan-kekurangan dan aib-aib yang ditiadakan oleh Allah terhadap diriNya, dan apa yang ditiadakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tiga jenis tauhid inilah yang wajib diketahui oleh seorang muslim, lalu secara sungguh-sungguh mengamalkannya.
Pertanyaan ?
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya :
Disebabkan kebodohan saya tentang macam-macam tauhid dan apa hakikatnya, sementara itu saya ingin berlepas diri dari (hal-hal yang bertentangan dengan tauhid, yaitu) kesyirikan, maka saya mengharapkan jawaban dari pertanyaan berikut ini. Ada berapa macam tauhid itu, dan bagaimana penjelasannya masing-masing ?
Jawaban :
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menambah semangat anda untuk mencari kebaikan, dan sungguh hal ini menunjukkan betapa besar perhatian anda terhadap masalah aqidah.
Memang wajib bagi setiap muslim memperhatikan aqidahnya karena aqidah merupakan asas (fondasi) dari amal perbuatannya.
Amal perbuatan itu dikatakan benar dan akan mendapatkan pahala hanya jika memenuhi dua Syarat berikut :
Pertama :
Amal tersebut haruslah dibangun di atas aqidah yang benar (ikhlas).
Kedua :
Harus sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (mutaba'ah).
Perhatian anda terhadap aqidah, yakni yang berkaitan dengan pengetahuan tentang macam-macam tauhid, menunjukkan anda bersemangat meraih kebaikan -alhamdulillah-, menginginkan kebenaran dan kelurusan aqidah yang wajib bagi setiap muslim.
Berkenan dengan macam-macam tauhid,
maka saya sampaikan bahwa: Tauhid ada tiga macam.
Pertama : Tauhid Rububiyah.
Artinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal perbuatanNya.
Seperti ( mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan bahaya, memberi manfaat, dan lain-lain )
yang merupakan perbuatan-perbuatan khusus Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Seorang muslim haruslah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak memiliki sekutu dalam RububiyahNya.
Kedua : Tauhid Uluhiyah.
Artinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam jenis-jenis peribadatan yang telah disyariatkan.
Seperti ; ( shalat, puasa, zakat, haji, do'a, nadzar, sembelihan, berharap, cemas, takut, dan sebagainya yang tergolong jenis ibadah).
Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal-hal tersebut dinamakan Tauhid Uluhiyah.
Dan tauhid jenis inilah yang dituntut oleh Allah Subhanhu wa Ta'ala dari hamba-hambaNya. Karena tauhid jenis pertama, yaitu Tauhid Rububiyah, setiap orang (termasuk jin) mengakuinya, sekalipun orang-orang musyrik yang Allah Subhanahu wa Ta'ala utus Rasulullah kepada mereka. Mereka mayakini Tauhid Rububiyah ini, sebagaiman tersebut dalam
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala."Artinya :
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, Siapakah yang menciptakan mereka ? niscaya mereka menjawab Allah. Maka bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)
". [Al-Zukhruf : 87]"
Artinya :
Katakanlah, Siapakah yang mempunyai tujuh langit dan mempunyai Arsy yang besar ? Mereka akan menjawab, Kepunyaan Allah. Katakanlah, Mengapa kamu tidak bertaqwa?"
[Al-Mu'minun : 86-87]
Masih banyak ayat-ayat yang menunjukkan bahwa
orang-orang musyrik meyakini Tauhid Rububiyah. Akan tetapi, sebenarnya yang dituntut dari mereka adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah. Jika mereka mengikrarkan Tauhid Rububiyah, maka hendaknya juga mengakui Tauhid Uluhiyah (ibadah). Sungguh, Rasulullah (diutus untuk)menyeru mereka agar meyakini Tauhid Uluhiyah.
Hal ini disebutkan dalam firmanNya Subhanahu wa Ta'ala.
Artinya :
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut, lalu diantara umat-umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula orang-orang yang telah dipastikan sesat. Oleh karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (para rasul)"
[An-Nahl ; 36].
Setiap rasul menyeru manusia agar meyakini Tauhid Uluhiyah. Adapun Tauhid Rububiyah, karena merupakan fitrah, maka belumlah cukup kalau seseorang hanya meyakini tauhid ini saja.
Ketiga : Tauhid Asma was Sifat.
Yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-saifat untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diriNya maupun yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Serta meniadakan kekurangan-kekurangan dan aib-aib yang ditiadakan oleh Allah terhadap diriNya, dan apa yang ditiadakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tiga jenis tauhid inilah yang wajib diketahui oleh seorang muslim, lalu secara sungguh-sungguh mengamalkannya.
Sabtu, 08 November 2008
MELACAK JEJAK TOGHUT

Oleh : Um.ZAHRA
Tanjumg Priok JAKARTA
Segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga dan semua shahabat, wa badu,Ini adalah bahasan tuntas tentag para pembela thoghut hukum dari kalangan Polisi, Tentara, Badan Intelejen, Pers, Cendikiawan, Ulama Suu' dan yang lainnya yang membantu thoghut dengan ucapan, perbuatan atau dengan keduanya di negara kafir mana saja.
MUQADIMAH - PERTAMA:
Penjelasan Makna Thaghut dan AnsharnyaIman seseorang tidak akan syah sampai dia kafir terhadap thoghut,
Allah ta’aalaa berfirman :فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
Barangsiapa yang Kafir ( ingkar) kepada Thaghut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat
(QS. Al Baqoroh : 256)
Ayat ini merupakan tafsir dari syahadat Laa Ilaha Illalloh yang berisi An Nafyi (peniadaan) dan Itsbat (penetapan).An Nafyu maknanya :
Peniadaan uluhiyyah dari setiap yang diibadahi selain Allah,
dan seorang hamba merealisasikan dengan :
Meyakini kebathilan beribadah kepada selain Alloh-meninggalkan peribadatan macam ini-Membencinya-mengkafirkan pelakunya-Memusuhi mereka.
Inilah yang dimaksud dengan al kufru bith thaghut (kafir terhadap thoghut),serta inilah tatacaranya sebagaimana yang dituturkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.Sehingga atas dasar ini maka anshar para thaghut dalam bahasan ini adalah :
1.Orang-orang yang membela-bela dengan ucapan, dan diantara para pemuka mereka adalah : sebagian ulama’ suu’ dan orang orang yang sok berilmu yang memeberikan Syar’iyyah Islamiyah (keabsahan Islam) terhadap penguasa kafir dan mereka membentengi dari para penguasa itu tuduhan kafir, mereka menganggap bodoh kaum muslimin mujahidin yang memberontak para penguasa itu, mereka menuduhnya sebagai orang jahat dan sesat serta mereka menyemangati para penguasa untuk menindak mereka.
Sebagaimana yang masuk dalam jajaran orang yang membela dengan ucapan :
sebagian penulis,wartawan dan orang orang pemberitaan yang melakukan perbuatan serupa dengan ini.
2.Orang-orang yang membela-bela dengan perbuatannya.
Dan sebagai tameng terdepan adalah pasukan para penguasa Kafir baik itu dari pasukan tentara atau polisi, pasukan penopang (di belakang) sama dengan yang terjun langsung di medan. Mereka itu sesuai ketentuan UUD dan undang undang yang berlaku di negeri ini dipersiapkan untuk tugas tugas berikut :
Menjaga keutuhan negara yang berarti lancarnya keberlangsungan penerapan
UUD dan undang –undang kafir buatan serta memberikan sangsi setiap orang yang menentang hal itu atau berusaha merubahnya.·Menjaga keabsahan UUD : dan ia berarti melindungi penguasa kafir itu sendiri karena dia menurut mereka dianggap sebagai pemimpin yang syah sesuai UUD (dustur) karena pengangkatannya telah berlangsung menurut proses yang dijelaskan UUD.·Mengokohkan kekuasaan Undang-undang: dengan melaksanakan apa yang digariskan UUD dan undang–undang. Dan masuk dalam hal itu pelaksanaan putusan-putusan yang muncul di Mahkamah mahkamah Thaghut.·
Dan juga masuk dalam kategori Ansharut Thawaghit : setiap orang yang membantu mereka dengan ucapan atau perbuatan dari kalangan selain orang orang yang telah kami sebutkan disini termasuk seandainya yang membela-bela itu pemerintah negara lain maka ia mendapat status hukum yang sama.
Inilah yang dimaksud sebagai thoghut dan mereka adalah ansharnya.Ketahuilah bahwa tidak mungkin bagi orang kafir melakukan kerusakan di bumi ini atau menganiaaya suatu umat dari manusia kecuali dengan kawanan pembantu yang membantu dia atas kezalimannya dan pengrusakannya serta mereka melindungi dia dari orang orang yang ingin membalasnya. Jadi orang kafir tidak akan bisa berdiri dan merusak kecuali dengan kawanan pembantu dan anshar dan dari sinilah
Allah ta’ala berfirman :وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,…”
(QS.Hud : 113)
Para ulama mengatakan:”Ar Rukun” adalah kecenderungan yang sedikit. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: ”Dan begitu juga yang diriwayatkan dalam sebuah atsar: “Bila terjadi hari kiamat,maka dikatakan : Mana orang-orang yang zalim dan kawanan pembantu mereka? --atau berkata : dan sejawat sejawat mereka— maka mereka dikumpulkan dalam peti-peti dari api kemudian mereka dilemparkan ke Neraka”Maka penguasa kafir itu tidak akan bercokol dan juga hukum hukum kafir serta apa yang ditimbulkannya berupa kerusakan yang besar di negeri kaum muslimin tidak akan berlangsung kecuali dengan anshar para penguasa thaghut itu, sama saja dalam hal itu anshar thaghut dengan ucapan yang menyesatkan manusia dan membuat pengkaburan ditengah mereka atau anshar dia dengan perbuatan melindungi para penguasa dan undang-undang, menjaga mereka dari orang orang yang berupaya pembalasan terhadap mereka,serta membantu mereka terhadap orang tersebut. Oleh sebab itu tidak aneh bila Allah mensifati bala tentara penguasa kafir dengan ‘pasak’ karena merekalah yang mengokohkan kekuasaan dan pemerintahannya dan mereka sebab keberlangsungan kekafiran dalam firmanNya Ta’ala :
وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ
dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak).
(QS. Al Fajr : 10)
Ibnu Jarir Ath-thabariy rahimahullah berkata dalam tafsir ayat ini :
Allah Yang Maha Mulia berfirman:
‘Apakah kamu tidak melihat apa yang Alloh lakukan kepada Fir’aun yang memiliki pasak-pasak’. Para ahli takwil (tafsir) berselisih pendapat tentang makna firman Alloh yang berbunyi: ذِي الْأَوْتَادِ” Yang mempunyai pasak-pasak” dan apa alasan dikatakan hal itu baginya?
Sebagian mereka mengatakan:
Makna itu adalah yang memiliki banyak tentara menguatkan baginya, pemerintahannya dan mereka berkata :
“pasak-pasak” ditempat ini berarti bala tentara.
(Tafsir Ath Thobariy, 30 / 179).
Dan ini semuanya dalam penjelasan kejahatan ansharuth thawaghit dan bahwa merekalah sebab sebenarnya untuk keberlangsungan kekafiran dan kerusakan sehingga tidak mungkin bagi orang kafir merusak ummat dan menzaliminya kecuali dengan kawanan pembantu yang membantunya. Bila saja Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata :
أنا برئ من كل مسلم يقيم بين أظهر المشركين
Saya berlepas diri dari setiap muslim yang menetap ditengah-tengah kaum musyrikin.
maka bagaimana dengan orang yang membantu mereka terhadap kekafirannya dan bagaimana dengan orang yang membantu mereka terhadap sikap mereka menyakiti dan memerangi kaum muslimin?
Dan dari sisi realita, maka sesungguhnya peperangan kaum muslimin melawan para thaghut penguasa dalam rangka mencopot mereka dengan mengangkat penguasa muslim sebenarnya adalah melawan anshar mereka dari kalangan militer dan lainnya, oleh sebab itu wajiblah mengetahui status ansharuth thawaghit.
Dan ia adalah materi bahasan kita.
Baca lanjut Melacak Jejak Toghut :Judul : Melacak Jejak ToghutPenulis :
Syaikh Abdul Qadir bin Abdul AzizAlih
Bahasa : Abu Sulaiman Amman Abdurrahman
Penerbit : Kafayeh Cipta Media
Kamis, 06 November 2008
TAUHID PRIORITAS PERTAMA DAN UTAMA
[bismillahir Rahmaanir Rahiim]
MUKADDIMAH
Segala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan, hidayah dan ampunanNya, serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal-amal kami.
Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang dapat menberinya hidayah. Aku bersaksi bahwasannya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” [Ali Imran : 102]
“Artinya : Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan daripadanya Allah menciptakan isterinya (Hawa); dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan ) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharaah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” [An-Nisaa' : 1]
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [Al-Ahzab : 70-71]
Wa ba’du :
Ini adalah risalah[1] yang sangat besar manfaat dan faidahnya baik bagi orang awam maupun kaum intelektual karena di dalamnya memuat jawaban dari seorang ‘alim ulama masa kini yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani -semoga Allah merahmatinya dan memberi (kita) manfaat dengan ilmunya-. Dalam risalah ini beliau menjawab suatu pertanyaan yang berkembang dikalangan orang-orang yang memiliki ghirah (semangat) terhadap agama Islam, mereka resah siang dan malam memikirkan soal ini dan hati mereka pun dibuat sibuk dengannya, inti pertanyaannya adalah :
“Apa jalan yang harus ditempuh untuk mencapai kebangkitan kaum muslimin? Dan jalan apa yang harus ditempuh oleh mereka sehingga Allah Ta’aala memberikan kekuasaan kepada mereka serta menempatkan mereka pada suatu kedudukan yang layak diantara umat-umat yang lain?”
Maka Al-Allamah Al-Albani -semoga Allah memberi (kita) manfaat dengan ilmunya- menjawab pertanyaan ini dengan tuntas dan jelas karena dirasakan bahwa umat sangat membutuhkan jawaban ini, maka kami memandang perlu menyebarluaskannya.
Saya memohon kepada Allah Ta’aala semoga risalah ini bermanfaat dan semoga Allah memberi hidayah kepada kaum muslimin menuju apa yang dicintai dan diridhaiNya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia
MUKADDIMAH
Segala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan, hidayah dan ampunanNya, serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal-amal kami.
Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang dapat menberinya hidayah. Aku bersaksi bahwasannya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” [Ali Imran : 102]
“Artinya : Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan daripadanya Allah menciptakan isterinya (Hawa); dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan ) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharaah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” [An-Nisaa' : 1]
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [Al-Ahzab : 70-71]
Wa ba’du :
Ini adalah risalah[1] yang sangat besar manfaat dan faidahnya baik bagi orang awam maupun kaum intelektual karena di dalamnya memuat jawaban dari seorang ‘alim ulama masa kini yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani -semoga Allah merahmatinya dan memberi (kita) manfaat dengan ilmunya-. Dalam risalah ini beliau menjawab suatu pertanyaan yang berkembang dikalangan orang-orang yang memiliki ghirah (semangat) terhadap agama Islam, mereka resah siang dan malam memikirkan soal ini dan hati mereka pun dibuat sibuk dengannya, inti pertanyaannya adalah :
“Apa jalan yang harus ditempuh untuk mencapai kebangkitan kaum muslimin? Dan jalan apa yang harus ditempuh oleh mereka sehingga Allah Ta’aala memberikan kekuasaan kepada mereka serta menempatkan mereka pada suatu kedudukan yang layak diantara umat-umat yang lain?”
Maka Al-Allamah Al-Albani -semoga Allah memberi (kita) manfaat dengan ilmunya- menjawab pertanyaan ini dengan tuntas dan jelas karena dirasakan bahwa umat sangat membutuhkan jawaban ini, maka kami memandang perlu menyebarluaskannya.
Saya memohon kepada Allah Ta’aala semoga risalah ini bermanfaat dan semoga Allah memberi hidayah kepada kaum muslimin menuju apa yang dicintai dan diridhaiNya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia
Langganan:
Komentar (Atom)