Senin, 15 Desember 2008

Berjalan Di Atas Manhaj Salaf ( Imam Syafii )

Sumber: Aqidah Imam Empat karangan Syaikh Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais. Diterjemahkan oleh Ali Musa Ya’qub,
Posted by: Nurdin Ambotang

1. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya,
Imam Syafi’i mengatakan:
“Barangsiapa bersumpah dengan menyebut salah satu asma’ Allah, kemudian melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarat.
Dan barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain Allah, misalnya “demi Ka’bah”, “demi ayahku”, dan sebagainya, kemudian melanggar sumpah itu, maka ia tidak wajib membayar kaffarat.
Begitu pula apabila ia bersumpah dengan mengatakan “demi umurku”, ia tidak wajib membayar kaffarat. Namun, bersumpah dengan menyebut selain Allah adalah haram, dan
dilarang berdasarkan hadits Nabi: “Sesungguhnya Allah melarang kamu untuk bersumpah dengan menyebut nenek moyang kamu. Siapa yang hendak bersumpah, maka bersumpahlah dengan menyebut asma’ Allah, atau lebih baik diam saja
(Shahih al-Bukhary, Kitab al-Aiman wa an-Nadzair, II/530).

2. Imam Ibn al-Qayyim menuturkan dalam kitabnya Ijtima’ al-Juyusy, sebuah riwayat dari Imam Syafi’i, bahwa beliau berkata:
“Berbicara tentang sunnah yang menjadi pegangan saya, Shahib-shahib (murid-murid) saya, begitu pula para ahli hadits yang saya lihat dan saya ambil ilmu mereka, seperti Sufyan, Malik, dan lain-lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah, dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu diatas ‘Arsy dilangit, dan dekat dengan makhluk-Nya, terserah kehendak Allah, dan Allah itu turun ke langit terdekat kapan Allah berkehendak.

3. Imam adz-Dzahabi meriwayatkan dari al-Muzani,
katanya, “Apabila ada orang yang dapat mengeluarkan unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid yang ada didalam hati saya, maka orang itu adalah Imam Syafi’i.”
Saya pernah dengar di masjid Cairo dengan beliau, ketika saya mendepat didepan beliau, dalam hati saya terdapat unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid. Kata hatiku, saya tahu bahwa seseorang tidak akan mengetahui ilmu yang ada pada diri Anda, maka apa sebenarnya yang ada pada diri Andar?
Tiba-tiba beliau marah, lalu bertanya:
“Tahukah kamu, dimana kamu sekarang?”
Saya menjawab: “Ya”. Beliau berkata : “Ini adalah tempat dimana Allah menenggelamkan Fir’aun. Apakah kamu tahu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa salam pernah menyuruh bertanya masalah yang ada dalam hatimu itu?”. “Tidak”, jawab saya. “Apakah para sahabat pernah membicarakan hal itu?”. “Tidak”, jawab saya. “Berapakah jumlah bintang dilangit?”, tanya beliau lagi. “Tidak tahu”, jawab saya. “Apakah kamu tahu jenis bintang-bintang itu, kapan terbitnya, kapan terbenamnya, dari bahan apa bintang-bintang itu diciptakan?”, tanya beliau. “Tudaj tahu” jawab saya. “Itu masalah makhluk yang kamu lihat dengan mata kepalamu, ternyata kamu tidak tahu. Mana mungkni kamu mau membicarakan tentang ilmu Pencipta makhluk itu”, kata beliau mengakhiri.
Kemudian beliau menanyakan kepada saya tentang masalah wudhu’, ternyata jawaban saya salah. Beliau lalu mengembangkan masalah itu menjadi empat masalah, ternyata jawaban saya juga tidak ada yang benar. Akhirnya beliau berkata: “Masalah yang kamu perlukan tiap hari lima kali saja tidak kamu pelajari. Tetapi kamu justru berupaya untuk mengetahui ilmu Allah. Ketika hal itu berbisik dalam hatimu.
Kembali saja kepada firman Allah :
“Dan tuhanmu adalah Tuhan yang satu. Tidak ada tuhan (yang Haq) selain Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya didalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berjalan dilautan dengan membawa barang-barang bermanfaat bagi manusia, dan air hujan yang diturunkan Allah dari langit dimana kemudian dengan air itu Allah hidupkan bumi setelah ia mati (gersang) dan Allah menyebarkan diatas bumi semua binatang melata, dan pengisaran angin dan awan yang direndahkan antara langit dan bumi, semuanya itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah: 163-164)
“Karenanya”, lanjut Iman Syafi’i, “Jadikanlah makhluk itu sebagai bukti atas kekuasaan Allah, dan janganlah kamu memaksa-maksa diri untuk mengetahui hal-hal yang tidak dapat dicapai oleh akalmu.

4. Imam Ibn Abdil Bar meriwayatkan dari Yunus bin Abdul A’la,
katanya, Saya mendengar Imam Syafi’i berkata:
“Apabila kamu mendengar ada orang berkata bahwa nama itu berlainan dengan apa yang diberi nama, atau sesuatu itu berbeda dengan sesuatu itu, maka saksikanlah bahwa orang itu adalah kafir zindiq”

5. Dalam kitab ar-Risalah, Imam Syafi’i berkata:
” Segala puji bagi Allah yang memiliki sifat-sifat sebagaimana Dia mensifati diri-Nya, dan diatas yang disifati makhlukNya.”

6. Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya Syiar A’lam an-Nubala’
menuturkan dari Imam Syafi’i, kata beliau:
“Kita menetapkan sifat-sifat Allah ini sebagaimana disebutkan didalam al-Quran dan Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa salam, dan kita meniadakan tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya), sebagaimana Allah juga meniadakan tasybih itu dalam firmanNya:
“Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia.” (as-Syura: 11)

7. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman,
katanya, “Saya mendengar Imam Syafi’i berkata tentang firman Allah:
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu (hari kiamat) benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.” (al-Muthaffifin :15)
“Ayat ini memberitahukan kita bahwa pada hari kiamat nanti ada orang-orang yang tidak terhalang, mereka dapat melihat Allah dengan jelas.”

8. Imam al-Lalaka’i menuturkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman,
katanya, “Saya datang kerumah Imam Syafi’i, ketika itu datang sebuah pertanyaan kepada beliau, “Apa pendapat Anda tentang firman Allah dalam surat al-Muthaffifin ayat 15,
yang artinya, “Sekali-kali tidak, Sesungguhnya mereka pada hari itu terhalang dari (melihat) Tuhannya?”
Imam Syafi’i menjawab:
“Apabila orang-orang itu tidak dapat melihat Allah karena dimurkai Allah, maka ini merupakan dalil bahwa orang-orang yang diridhai Allah akan dapat melihat-Nya.”
Ar-Rabi’ lalu bertanya:
“Wahai Abu Abdillah, apakah anda berpendapat seperti itu?. “Ya, saya berpendapat seperti itu, dan itu saya yakini kepada Allah”, begitu jawab Iman Syafi’i.

9. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan, katanya, Dihadapan Imam Syafi’i ada orang menyebut-nyebut nama Ibrahim bin Isma’il bin Ulayah. Kemudian Imam Syafi’i berkata:
“Saya berbeda pendapat dengan dia dalam segala hal. Begitu pula dalam kalimat “La ilaha illallah” Saya tidak sependapat seperti pendapatnya. Saya mengatakan Allah berfirman kepada Nabi Musa secara langsung tanpa penghalang. Sedangkan dia mengatakan, bahwa ketika Allah berfirman kepada Nabi Musa, Allah menciptakan ucapan-ucapan yan kemudian dapat didengar oleh Nabi Musa secara tidak langsung (ada penghalang).”

10 Imam al-Lalaka’i meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi’i mengatakan:
“Barangsiapa yang mengatakan bahwa al-Quran itu makhluk, maka dia telah menjadi kafir.

11. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Muhammad az-Zubairi,
katanya, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i, “benarkah al-Quran itu khaliq (pencipta)?”. Jawab beliau: “Tidak Benar.”. “Apakah al-Quran itu makhluk?”, tanyanya lagi. “Tidak”, jawab Imam Syafi’i. “Apakah al-Quran itu bukan makhluk?”, tanyanya berikutnya. “Ya, begitu”, jawab Imam Syafi’i.
Orang tadi bertanya lagi:
“Mana buktinya bahwa al-Quran itu bukan makhluk?”.
Imam Syafi’i kemudian mengangkat kepalanya, dan berkata: “Maukah kamu mengakui bahwa al-Quran itu Kalam Allah?”.
“Ya, mau”, kata orang tadi.
Imam syafi’i kemudian berkata:
“Kamu telah didahului ayat:
“Dan jika diantara orang-orang musryik itu meminta perlindungan kepada kamu, maka lindungilah ia, supaya ia sempat mendengar Kalam Allah.” (at-Taubah: 6)
dan ayat:
“Dan Allah telah berbicara dengan Musa secara langsung.” (an-Nisa’: 164)
Imam Syafi’i kemudian berkata lagi kepada orang tersebut: “Maukah kamu mengakui bahwa Allah itu ada dan demikian pula KalamNya? atau Allah itu ada, sedangkan KalamNya belum ada?”. Allah ada, begitu pula Kalamnya.”
Mendengar jawaban itu Imam Syafi’i tersenyum, lalu berkata:
“Wahai orang-orang kuffah, kamu akan membawakan sesuatu yang agung kepadaku, apabila kamu mengakui bahwa Allah itu ada semenjak zaman azali, begitu pula KalamNya. Lalu darimana kamu pernah punya pendapat bahwa Kalam itu Allah atau bukan Allah?”. Mendengar penegasan Imam Syafi’i, orang tadi terdiam, kemudian keluar.

12. Dalam kitab Juz al-I’tiqad, yang disebut-sebut sebagai karya Imam Syafi’i, dari riwayat Abu Thalib al-’Isyari, ada sebuah keterangan sebagai berikut:
“Imam Syafi’i pernah ditanya tentang sifat-sifat Allah, dan hal-hal yang perlu diimani, jawab beliau: “Allah Tabaraka wa ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa salam, yang siapapun dari umatnya tidak boleh menyimpang dari ketentuan seperti itu setelah memperoleh keterangan (hujjah). Apabila ia menyimpang dari ketentuan setelah ia memperoleh hujjah tersebut, maka kafirlah dia.
Namun apabila ia menyimpang dari ketentuan sebelum ia memperoleh hujjah, maka hal itu tidap apa-apa baginya. Ia dimaafkan karena ketidaktahuannya itu. Sebab untuk mengetahui sifat-sifat Allah itu tidak mungkin dilakukan dengan akal dan pikiran, tetapi hanya berdasarkan keterangan-keterangan dari Allah. Bahwa Allah itu mendengar,
Allah mempunyai dua tangan:
“Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka” (al-Maidah: 64)

Dan bahwa Allah itu mempunyai tangan kanan

“Dan langit itu dilipat tangan kanan Allah” (az-Zumar: 67)

Dan Allah juga punya wajah:

“Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah Allah” (al-Qashash: 88 )

“Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”
(ar-RahmanL 27)

Allah juga mempunyai telapak kaki, ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa salam :
“Sehingga Allah meletakkan telapak kaki-Nya di Jahannam”
(Shahih Bukhari, Kitab at-Tafsir, VII/594. Shahih Muslim, kitab al-Jannah, IV/2187)

Allah tertawa terhadap hamba-Nya yang mukmin, sesuai dengan sabda Rasululllah kepada orang yang terbunuh dalam jihad fi sabilillah, bahwa “kelah akan bertemu dengan Allah, dan Allah tertawa kepadanya”
(Shahih Bukhari, kitab al-Jihad, VI/39. Shahih Muslim, kitab al-Imarat, III(1504)

Allah turun setiap malam ke langit yang terdekat dengan bumi, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa salam tentang hal itu. Mata Allah tidak pecak sebelah, sesuai dengan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa salam yang menyebutkan, bahwa “Dajjal itu pecak sebelah matanya. Sedangkan Allah tidak pecak sebelah mata-Nya”.

Orang-orang mukmin kelak akan melihat Allah pada hari kiamat dengan mata kepala mereka, seperti halnya mereka melihat bulan purnama. Allah juga punya jari jemari,
berdasarkan hadit Nabi Shallallahu alaihi wa salam:
“Tidak ada satu buah hati kecuali ia berada diantara jari-jari Allah ar-Rahman”
(Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, IV/182. Sunan Ibn Majah, I/72, Mustadrak al-hakim, I/525. al-Ajiri, asy-syari’ah, hal. 317. Ibn Mnada, ar-Radd)

Pengertian sifat-sifat seperti ini, dimana Allah telah mensifati diri-Nya sendiri dan Nabi Shallallahu alaihi wa salam juga mensifatiNya, tidak dapat diketahui hakikatnya oleh akal dan pikiran. Orang yang tidak mendengar keterangan tentang hal itu tidak dapat disebut kafir. Apabila ia telah mendenga keterangan sendiri secara langsung, maka ia wajib meyakininya seperti halnya kita harus menetapkan sifat-sifat itu tanpa tasybih (menyerupakan) Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana juga Allah tidak menyerupakan makhluk apapun dengan diri-Nya, Allah berfirman:
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (asy-Syura: 11)

Sabtu, 06 Desember 2008

10 Pembatal Keislaman

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya untuk masuk ke dalam Dinul Islam dan berpegang teguh dengannya, serta mewaspai segala sesuatu yang akan menyimpangkan mereka dari din yang suci ini.
Dia mengutus nabi-Nya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan amanat da’wah yang suci dan mulia. Allah juga telah mengingatkan hamba-Nya, bahwa barangsiapa yang mengikuti seruan para Rasul itu, maka dia telah mendapatkan hidayah; dan siapa yang berpaling dari seruannya, maka ia telah tersesat.
Di dalam Kitabullah, ia mengingatkan manusia tentang perkara-perkara yang menjadi sebab “riddah” (murtad dari Dinul Islam) dan perkara-perkara yang termasuk kemusyrikan dan kekafiran. Beberapa ulama rahimahullah selanjutnya menyebutkan peringatan-peringatan Allah itu dalam kitab-kitab mereka.
Mereka mengingatkan bahwa sesungguhnya seorang muslim dapat dianggap murtad dari Dinul Islam disebabkan beberapa hal yang bertentangan, yaitu :
Mengadakan persekutuan dalam beribadah kepada Allah. “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya dan mengampuni selain dosa syrik bagi siapa yang dikehendaki…”. (An-Nisa: 116). “Sesungguhnya siapa saja yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (Al-Maidah: 72) Termasuk dalam hal ini, permohonan pertolongan dan permohonan do’a kepada orang mati serta bernadzar dan menyembelih qurban untuk mereka.
Menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai perantara do’a, permohonan syafaat, serta sikap tawakal mereka kepada Allah.
Menolak untuk mengkafirkan orang-orang musyrik, atau menyangsikan kekafiran mereka, bahkan membenarkan madzhab mereka.
Berkeyakinan bahwa petunjuk selain yang datang dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih sempurna dan lebih baik. Menganggap suatu hukum atau undang-undang lainnya lebih baik dibandingkan syari’at Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta lebih mengutamakan hukum taghut dibandingkan ketetapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Membenci sesuatu yang datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, meskipun diamalkannya. “Demikian itu karena sesungguhnya mereka benci terhadap apa yang diturunkan Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) amal-amal mereka”. (Muhammad: 9).
Mengolok-olok sebagian dari Din yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, misalnya tentang pahala atau balasan yang akan diterima. “…Katakanlah, apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta ma’af, karena kamu kafir sesudah beriman…”.(At-Taubah: 65-66).
Masalah sihir. Diantara bentuk sihir adalah “Ash Sharf” (pengalihan), yaitu mengubah perasaan seorang laki-laki menjadi benci kepada istrinya. Sedangkan “Al ‘Athaf” adalah sebaliknya, menjadikan orang senang terhadap apa yang sebelumnya dia benci dengan bantuan syaithan. “..dan keduanya tidak mengajarkan sihir kepada seseorang pun sebelum mengatakan,’Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, karena itu janganlah kamu kafir…”.(Al-Baqoroh: 102).
Mengutamakan orang kafir serta memberikan pertolongan dan bantuan kepada orang musyrik lebih daripada pertolongan dan bantuan yang diberikan kepada kaum muslimin. “…barangsiapa di antara kamu, mengambil mereka orang-orang musyrik menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim”. (Al-Maidah: 51).
Beranggapan bahwa manusia bisa leluasa kelar dari syari’at Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Barangsiapa yang mencari agama selain Dinul Islam, maka dia tidak diterima amal perbuatannya, sedang dia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi”. (Ali-Imran: 85).
Berpaling dari Dinullah, baik karena dia tidak mau mempelajarinya atau karena tidak mau mengamalkannya. “Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-prang yang berdosa”. (As-Sajadah: 22).
Kita berlindung kepada Alah dari hal-hal yang menyebabkan kemurkaan-Nya dan dari adzabnya yang pedih. Shalawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada sebaik-baiknya mahluk-Nya, Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.
Maraji’: Aqidah Shohihah Vs Aqidah Bathilah, Syaikh Abdul Aziz bin baaz

Syahadatain MUHAMMAD RASULULLAH. MAKNA

Syahadatain MUHAMMAD RASULULLAH
MAKNA
Mengakui secara lahir dan batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya diutus kepada manusia secara keseluruhan konsekuensinya mengamalkan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan tidak menyembah Allah kecuali yang disyariatkan.
RUKUN
Tidak berlebih-lebihan (ifrath) dengan tidak mengkultuskan maupun mendudukannya sebagai sesembahan selain Allah
Tidak meremehkan (tafrith), yaitu dengan mendahulukan hukum, perkataan dan sunnah beliau diatas segala pendapat orang.
SYARAT
Mengakui kerasulannya dan meyakini dalam hati
Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan
Mengikuti dan mengamalkan ajaran yang dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya
Membenarkan segala yang dikabarkan dari hal-hal ghaib, baik yang sudah lewat maupun yang akan datang
Mencintainya melebihi cintanya kepada diri sendiri, harta, anak, orang tua serta seluruh manusia
Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya.
KONSEKUENSI
Mentaati perintahnya
Membenarkan ucapannya
Menjauhi larangannya
Tidak menyembah Allah I kecuali dengan apa yang disyariatkan.
Disarikan dari Kajian BKMT di Masjid Al Furqan, TAM Head Office, Rujukan Kitab Tauhid Jilid 1, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan, Darul Haq, 2000

Syahadat adalah persaksian hati dan lisan, dengan mengerti maknanya, mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin.MAKNA

Syahadat adalah persaksian hati dan lisan, dengan mengerti maknanya, mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin.MAKNA
Berkeyakinan dan bersumpah bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah I semata dengan mentaati dan mengamalkannyaRUKUN
Peniadaan (An Nafyu) terhadap segala apa yang disembah selain Allah [membatalkan syirik dengan segala bentuknya]
Penetapan (Al Itsbat) bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah
SYARAT
Mengetahui (ilmu). Memahami makna dan maksudnya (apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan).
Yakin. Meyakini kandungannya, manakala ia meragukan maka sia-sia belaka persaksiannya.
Ikhlas. Membersihkan amal dari segala macam syirik.
Jujur (shidq). Hatinya meyakini, lisannya mengucapkan dan tidak mendustakan apa yang diucapkan.
Cinta (mahabah). Mencintai kalimat ini dan isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkannya.
Tunduk (inqiyad). Patuh dengan kandungan kalimat ini, berlepas diri dari peribadatan selain kepada Allah I dan para pelakunya.
Menerima (qobul). Menerima kandungan syahadat ini dengan menyembah Allah I semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.

La Ilaha Illallah antara yang Benar dan yang Salah

Penulis: Abu ‘Uzair Boris Tanesia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara:
syahadat La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah,
mengerjakan salat,
menunaikan zakat,
menunaikan haji ke Mekkah dan puasa di bulan Ramadhan.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Kelima hal inilah yang kita kenal dengan sebutan rukun islam.
Di antara kelima rukun islam tersebut, rukun yang paling penting adalah rukun yang pertama yaitu dua kalimat syahadat. Rukun inilah yang melandasi diterimanya keempat rukun islam serta amalan-amalan ibadah yang lain. Rukun inilah yang menjadi dasar apakah seseorang itu islam atau tidak. Namun, amat sangat disayangkan, pemahaman yang salah tentang kalimat syahadat La Ilaha Illallah beredar di sekitar kaum muslimin. Baik itu kesalahan dalam masalah keyakinan maupun amal perbuatan. Bahkan, kesalahan dalam memahami syahadat ini dapat berakibat terjatuhnya seseorang ke dalam kesyirikan. Untuk itu sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui manakah yang benar dan yang salah dari syahadat tersebut agar kita tidak terjatuh ke dalam kesalahan yang dapat berakibat terjerumusnya kita ke dalam dosa syirik. Allah berfirman yang artinya,
” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisa: 48)
Di antara kesalahan-kesalahan itu adalah:
La Ilaha Illallah = Tiada Tuhan Selain Allah ?

Di antara kesalahan dalam syahadat adalah :
memaknai La Ilaha Illallah dengan ‘Tiada Tuhan selain Allah’.
Konsekuensi dari pemaknaan ini menyebabkan setiap orang yang mengakui Allah adalah Tuhan maka ia telah masuk islam.
Padahal, kaum musyrik Quraisy pun mengakui bahwa Allahlah Tuhan mereka, Allahlah yang menciptakan langit dan bumi, Allahlah yang menghidupkan dan mematikan mereka, Allahlah yang memberi mereka rizki. Namun pengakuan mereka ini tidaklah menyebabkan mereka masuk islam. Mereka tetap dinyatakan kafir oleh Allah dan Rasul-Nya.
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap memerangi mereka.
Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah yang artinya,
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup[689] dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”
(Yunus: 31).

La Ilaha Illallah = Tiada Sesembahan Selain Allah ?
Kesalahan lainnya mengenai syahadat La Ilaha Illallah adalah memaknainya dengan Tiada sesembahan selain Allah. Pemaknaan ini jelas-jelas menyimpang dari yang dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena, konsekuensi dari makna ini ialah bahwa seluruh sesembahan yang ada di muka bumi ini adalah Allah (sebagaimana pernyataan ‘Tidak ada Nabi kecuali laki-laki’ berarti ‘Semua Nabi adalah laki-laki’).
Hal ini jelas-jelas mustahil, karena apakah mungkin Budha, Yesus, Dewa Wisnu, Dewa Krishna, Dewa Brahma, Dewi Sri dan sesembahan-sesembahan lainnya itu adalah Allah? Bahkan konsekuensi pemahaman ini lebih buruk dari pemahaman orang Nasrani yang menjadikan Nabi Isa sebagai Allah itu sendiri.
Sebagaimana firman-Nya yang artinya,
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam“.”
(Al Maidah: 72).

Pengertian yang benar dari syahadat La Ilaha Illallah
Lalu, apakah makna yang benar dari syahadat La Ilaha Illallah ?
Makna syahadat La Ilaha Illallah adalah Tiada Sesembahan yang berhak untuk disembah/diibadahi selain Allah atau dengan kata lain Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah. Pengertian ini sangat sesuai dengan kenyataan yang ada di sekitar kita.
Kita lihat bahwa sesungguhnya di dunia ini begitu banyak sesembahan yang disembah/diibadahi selain Allah. Namun semua sesembahan itu adalah batil. Sesembahan-sesembahan itu tidak layak dan tidak pantas untuk disembah/dibadahi. Hanya Allahlah satu-satunya yang berhak dan benar untuk disembah. Hal ini sebagaimana doa yang sering kita ucapkan berulang-ulang kali di dalam salat kita “Hanya kepada-Mulah kami beribadah“.
Tidak ada pembatal syahadat La Ilaha Illallah selain pindah agama?
Di antara kesalahan lainnya adalah pemahaman yang menyatakan bahwa seseorang tidak batal syahadatnya kecuali jika ia pindah agama dari islam ke agama selain islam.
Atau dengan kata lain, apabila seseorang telah bersyahadat, maka ia tetap beragama islam kecuali ia pindah agama. Hal ini jelas salah, karena bukan hanya pindah agama saja yang dapat menyebabkan seseorang batal syahadatnya dan keluar dari islam. Banyak hal-hal lain yang dapat membatalkan syahadat seseorang, di antaranya adalah berdoa kepada wali atau orang saleh (serta perbuatan-perbuatan syirik lainnya), melakukan perbuatan sihir, tidak mengkafirkan orang kafir (seperti orang Yahudi, Nasrani, Budha, Hindu, Konghucu dan lain sebagainya) atau ragu-ragu atas kekafiran mereka, membenci ajaran islam, menghina Allah, menghina Rasulullah, menghina ajaran islam, berpaling dari agama Allah, tidak mempelajari dan mengamalkannya dan lain sebagainya. Orang yang melakukan salah satu dari pembatal syahadat tersebut dan tidak bertaubat, maka ia kafir. Meskipun ia salat, puasa, zakat, pergi haji serta melakukan ibadah-ibadah lainnya.
Tahlilan
Di antara kesalahan lainnya yang tersebar di masyarakat berkaitan dengan kalimat La Ilaha Illallah adalah ritual tahlilan. Ritual ini merupakan ritual yang sering dilakukan masyarakat Indonesia untuk mengirim pahala bagi anggota keluarganya yang telah meninggal. Pada ritual ini biasanya diadakan jamuan makan yang diikuti dengan pembacaan Al Qur’an dan dzikir kalimat La Ilaha Illallah. Ritual ini merupakan ritual yang tidak ada landasannya dari islam. Ritual tahlilan ini meskipun sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita, namun sama sekali tidak ada petunjuknya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tidak didapatkan satu pun hadits yang shohih yang menyatakan Rasulullah dan para sahabatnya pernah melakukan tahlilan untuk mengirimkan pahala kepada kerabat mereka yang telah meninggal. Padahal, semasa Rasulullah hidup, banyak keluarga beliau yang meninggal, tetapi beliau tidak pernah melakukan tahlilan. Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR Muslim).
Bahkan sesungguhnya, ritual tahlilan merupakan modifikasi dari ritual masyarakat animisme dan dinamisme dahulu. Di mana mereka beranggapan bahwa apabila arwah telah keluar dari jasad maka arwah tersebut akan bergentayangan pada hari ketujuh, keempat puluh, keseratus dan keseribu. Maka untuk mengusir arwah gentayangan terebut, mereka pun membaca mantra-mantra sesuai dengan keyakinan mereka. Dan ketika islam datang, maka mantra-mantra tersebut diganti dengan kalimat La Ilaha Illallah, sehingga ritual masyarakat animisme tersebut pun berubah menjadi ritual tahlilan.

(Disarikan dari Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan & Selamatan karya Abu Ibrahim Muhammad Ali bin A. Mutholib)
Demikianlah beberapa penjelasan mengenai kesalahan seputar kalimat syahadat La Ilaha Illallah. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang dapat merealisasikan kalimat syahadat La Ilaha Illallah baik melalui amalan hati, lisan maupun amalan perbuatan kita. Karena sesungguhnya barangsiapa yang membenarkan kalimat syahadat La Ilaha Illallah hanya di dalam hati maka ia seperti paman Rasulullah Abu Thalib yang kafir karena enggan mengucapkan kalimat ini. Dan barangsiapa yang hanya mengucapkan kalimat syahadat La Ilaha Illallah di lisan tanpa amalan hati dan badan sungguh ia bagaikan kaum munafik yang mengaku-ngaku islam. Wallahu a’lam.

TAFSIRAN TAUHID DAN SYAHADAT LAA ILAHA ILLA ALLAH

TAFSIRAN TAUHID DAN SYAHADAT LAA ILAHA ILLA ALLAH
Ditulis pada Maret 14, 2008 oleh mkisman1gemolong
Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Firman Allah Ta’ala:
“Artinya : Orang-orang yang diseru oleh kaum musyrikin itu, mereka sendiri senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepadaNya), dan mereka mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan siksa-Nya, sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” [Al-Isra': 57]“Artinya : Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya; Sesungguhnya aku melepaskan diri dari segala apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku, karena hanya Dia yang akan menunjukiku (kepada jalan kebenaran).” [Az-Zukhruf: 26-27]
“Artinya : Mereka, menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (mereka mempertuhankan pula) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka itu tiada lain hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan, tiada Sembahan yang haq selain Dia. Maha Suci Allah dari perbuatan syirik mereka.” [At-Taubah: 31]
“Artinya : Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…”[Al-Baqarah: 165]
Diriwayatkan dalam Shahih (Muslim), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Kandungan dalam tulisan ini:
[1]. Ayat dalam surah Al-Isra’. Diterangkan dalam ayat ini bantahan terhadap kaum musyrikin yang menyeru (meminta) kepada orang-orang shaleh. Maka, ayat ini mengandung sesuatu penjelasan bahwa perbuatan mereka itu syirik akbar.
[2]. Ayat dalam surah Bara’ah (At-Taubah). Diterangkan dalam ayat ini bahwa kaum Ahli Kitab telah menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan diterangkan bahwa mereka tiada lain hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan yaitu Allah. Padahal tafsiran ayat ini, yang jelas dan tidak dipermasalahkan lagi, yaitu mematuhi orang-orang alim dan rahib-rahib dalam tindakan mereka yang bertentangan dengan hukum Allah; dan maksudnya bukanlah kaum Ahli Kitab itu menyembah mereka.
Dapat diambil kesimpulan dari ayat ini bahwa tafsiran “Tauhid” dan Syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurnian ketaatan kepada Allah, dengan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya.
[3]. Kata-kata Al-Khalil Ibrahim ‘alaihissalam kepada orang-orang kafir: “Sesungguhnya aku melepaskan diri dari apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku…”
Disini beliau mengecualikan Allah dari segala sembahan. Pembebasan diri (dari segala sembahan yang bathil) dan pernyataan setia (kepada Sembahan yang haq, yaitu Allah) adalah tafsiran yang sebenarnya dari syahadat “Laa ilaha illa Allah.” Allah Ta’ala berfirman: “Dan Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya, supaya mereka kembali (kepada jalan kebenaran). (Az-Zukhruf: 28)
[4]. Ayat dalam surah Al-Baqarah yang berkenaan dengan orang-orang kafir, yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya: “Dan mereka tidak akan dapat keluar dari neraka.”
Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa mereka menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah, akan tetapi kecintaan mereka itu belum bisa memasukkan mereka kedalam Islam. Dari ayat dalam surah Al-Baqarah ini dapat diambil kesimpulan bahwa tafsiran “tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurniaan kecintaan kepada Allah yang diiringi dengan rasa rendah diri dan penghambaan hanya kepada-Nya.
Lalu bagaimana dengan orang yang mencintai sembahan-nya lebih besar daripada kecintaannya kepada Allah? Kemudian, bagaimana dengan orang yang hanya mencintai sesembahan selain Allah itu saja dan tidak mencintai Allah?
[5]. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Ini adalah termasuk hal terpenting yang menjelaskan pengertian “Laa ilaha illa Allah”. Sebab apa yang dijadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekedar mengucapkan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu, bukan pula dengan mengerti makna dan lafadznya, bukan pula dengan mengakui kebenaran kalimat tersebut, bahkan bukan juga tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi tidaklah haram dan terlindung harta dan darahnya hingga dia menambahkan kepada pengucapan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu pengingkaran kepada segala sembahan selain Allah. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.
Sungguh agung dan penting sekali tafsiran “Tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yang terkandung dalam hadits ini, sangat jelas keterangan yang dikemukakannya dan sangat meyakinkan argumentasi yang diajukan bagi orang yang menentang.
[Dikutip dari buku: "Kitab Tauhid" karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.Penerbit: Kantor Kerjasama Da'wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418H]

Senin, 24 November 2008

Hal yang wajib diketahui bagi setiap muslim

Oleh : NURDIN. VERIN YRASKA
Fahaheel. Kuwait 21-12-2006

Kalo kita kaji dan kita cermati dari sejarah kisah kisah dak,wah para Rosul yang telah
di ceritakan didalam Al,quran karim, apa yang terjadi
Antara Mereka para Rosul bersama ummatnya.
Maka akan kita dapatkan bahwasannya mereka para Rosul semuanya menyeru ummatnya pada satu seruan yang sama :
( Q:S An Nahl 36 )
ولقد بعثنافى كل أمة رسولا أن اعبدوالله واجتنبواطغوت
Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap tiap umat
( untuk menyerukan ) " Sembahlah ALLAH (saja), dan jauhilah THOGUT itu "

ALLAH mengutus Rosul kepa tiap tiap ummatnya dari Rosul yang pertama :
Nabi Nuh as, Nabi Hud as, Nabi Saleh as, Nabi Suaeb as, Nabi Ibrahim as sampai pada Nabi yang terakhir yang diutus untuk seluruh ummat manusia yaitu Rosulullo SAW, untuk mengajak kepada penyembahan hanya kepada ALLAH swt semata, dan mencegah mereka melakukan perbuatan Syrik.
Sekalipun syariat mereka berbeda beda, seruan dakwah yang dilakukan oleh semua Rosul kepada ummatnya itu adalah dakwah kepada TAUHID yaitu :
PEMURNIAN IBADAH hanya kepada ALLAH semata
(bertakwa dan taat kepada NYA serta taat kepada Rosulnya)

Pengertian kata Ibadah bukan hanya masalah ritual saja seperti :
Sholat, Puasa, Haji, Ini memahaminya dalam artian yang sempit .
Pengertian Ibadah tidak bisa dibatasi .
Ibadah bukan urusan Pribadi, seperti pemahaman orang orang Islam Sekuler,
yang memisahkan urusan Agama dengan yang lain, seperti :
Aktifitas, Pribadi, sampai KeNegaraan.
pengertian Ibadah itu sangat luas termasuk melakukan ursan urusan yang lain.
selama tidak bertentangan dengan aturan aturan Allah dan Rasulnya ( Aalquran dan Hadist ).

Ibadah bisa dengan kata katanya, bisa dengan Pikirannya, bisa juga dengan apa saja dari anggota tubuh yang dimiliki. Ibdah juga berarti segala perkataan dan perbuatan, baik zhahir maupun batin, yang dicintai dan diridoi oleh Allah swt. Dan suatu amal ibadah diniati dengan hati yang ikhlas semata mata karena Allah dan mengikuti tuntunan Rosululloh saw. Jadi pengertian Ibadah yaitu :
Penghambaan diri kepada Allah swt dengan cara mentaati segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya sebagaimana telah disampaikan oleh Rasululloh saw.

Ibadah kepada Allah SWT, Tidak akan terwujud, dengan sebenar-benarnya kecuali dengan mengingkari THOGUT dan inilah pengertian firman Allah Taala,
(Surat Al-Baqorah 256) :
yang artinya :
Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat.

Menurut tafsir Ibn Qoyyim :
Thogut adalah setiap yang disembah/diagungkan/ditaati/dipatuhi selain Allah dimana dia rela dengan peribadatan yang dilakukan oleh penyembah dan pengikutnya, atau rela dengan ketaatan orang yang mentaati dalam hal maksiat kepada Allah dan RasulNya. Baik yang disembah, diagungkan, ditaati, berupa manusia, syetan, batu dan sebagainya.
Bentuk Thogut amat banyak,
tetapi pemimpin mereka ada 5, yaitu :

1. Syetan
Thogut ini selalu menyeru beribadah kepada selain Allah.
Dalilnya didalam
(surat yasin 60) :
yang artinya :
ألم أهد إليكم بني أدم ان لا تعبدوالشيطن إنه لكم عد ومبن
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan ? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.


(Surat An Nisa 60 ):
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut [1], padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka [dengan] penyesatan yang sejauh jauhnya.


2. Orang yang mengaku mengetahui Ilmu Ghaib
Allah berfirman didalam
(surat Annaml ayat 65) :
artinya :
Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.

3 Pengusa yang zhalim yang merubah hukum-hukum Allah SWT
Seperti peletak undang-undang yang tidak sejalan dengan Islam. Mreka membuat undang-undang yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman di
(surat Assyuraa ayat 21) :
artinya :
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?.

4. Hakim yang tidak memutuskan menurut apa yang telah
diturunkan Allah SWT.
Jika ia meyakini bahwa Hukum-hukum yang telah diturunkan Allah SWT tidak sesuai lagi, atau dia membolehkan diberlakukannya hukum yang lain. Allah SWT berfirman di dalam

(surat Al Maidah ayat 44) :
yang artinya :
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

5. Seorang atau sesuatu yang disembah dan diminta pertolongan oleh
Manusia selain Allah SWT sedang Ia rela dengan yang demikian.

Dalilnya adalah:
(Surat Al Anbiya ayat 29) :
Artinya :
Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah", maka orang itu kami beri balasan dengan jahannam, demikian kami memberikan pembalasan kepada orang orang zolim.

وقال الشعبي : كان بين رجل من المنا فقين ور جل من اليهود خصومه
فقال اليهود:
نتحاكم إلى محمد' عرف أنه لا يأخذ الرشوة ' وقل المنافق : نتحاكم إلى اليهود' لعلمه أنهم يأخذون الرشوة' فاتفقا أن يأتيا كاهنا في جهينة فيتحاكما إليه' فنزلت : ألم تر إلى الذين يزعمون الاية

Asy-Sya'bi menuturkan :
Pernah terjadi pertengkaran antara seorang munafik dan seorang Yahudi itu :
Orang yahudi itu berkata :
"Mari kita berhakim kepada Muhammad" - Karena mengerti bahwa beliau tidak mengambil risywah (uang sogok). Sedang si munafik berkata : "Marilah kita berhakim kepada orang orang Yahudi " - Karena ia tahu bahwa mereka mau menerima risywah. Maka bersepakatlah keduanya untuk datang berhakim kepada seorang dukun di Juhainah.
Lalu turunlah ayat :

ألم تر إلى الذين يزعمون انهم ءامنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطن أن يضلهم ضللاً بعيداً (60) وإذا قيل لهم تعالوا إلى ما أنزل الله وإلى الرسول رأيت
المنفقين يصدون عنك صدوداً (61) فكيف إذا أصبتهم مصيبة بما قدمت أيديهم ثم جاءوك يحلفون بالله إن أردنا إلا إحسنا وتوفيقا


Tidakkah kamu memperhatikan orang orang yang mengaku bahwa dirinya telah beriman dengan apa yang diturunkan kepadamu dan dengan apa yang diturunkan sebelummu ? Mereka hendak bertahkim kepada thoghut, padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thoghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka : "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang telah Allah turunkan dan kepada hukum Rasul" niscaya kamu lihat orang orang munafik itu menghalangi (manusia) dari (mendekati) kamu dengan sekuat kuatnya. Maka bagaimanakah halnya, apabila mereka ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah :" Demi Allah, sekali kali kami tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna ".
(Surah: An-Nisa : 60,61,62)

وقيل ؛ (نزلت في رجلين اختصما ) فقآل أحدهما : نترافع الى النبي صلى الله عليه وسلم , وقال الآخره :الى كعب بن الأشرف, ثم ترافعا إلى عمر ,فذكر له أحدهما القصه ,فقال للذي لم يرضى برسول الله صلى الله عليه وسلم :أكذلك؟ قال : نعم, فضربه بالسيف فقتله ))
Dikatakan pula bahwa ayat tersebut diatas diturunkan berkenan dengan dua orang yang bertengkar, salah seorang mengatakan :
Marilah sama sama mengadukan kepada Nabi saw, sedang yang lain lagi mengatakan :
Kepada Ka'b Al-Asyraf kemudian keduanya mengadukan perkara mereka kepada Umar dan salah seorang dari mereka berduapun menjelaskan kepadnya tentang kasus yang terjadi. Lalu Umar bertanya kepada orang yang tidak rela dengan keputusan Rasulullah saw : Demikiankan halnya ?. Ia menjawab : Ya, Akhirnya dibunuhlah orang itu oleh Umar dengan dipancung pakai pedang.

Ayat ini menunjukkan kewajiban berhakim kepada Kitabullah dan Rasulullah, dan menerima hukum keduanya dengan ridha dan tunduk. Barang siapa yang berhakim kepada selainnya, berarti berhakim kepada thoghut, sekalipun diberi sebutan apa saja.
Dan menunjukkan kewajiban mengingkari thoghut serta menjauhkan diri dan waspada terhadap tipu daya syaitan. Menunjukkan pula bahwa barang siapa diajak berhakim kepada hukum Allah dan Rasulnya haruslah menerima : Apabila menolak maka dia adalah munafik, dan apapun dalih yang dikemukakannya seperti menghendaki penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna bukanlah merupakan dasar baginya untuk menerima selain hukum Allah dan Rasul-Nya.

وإذا قيل لهم لا تفسدوا في الأرض قالوا إنما نحن مصلحون
Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang orang munafilk), : " Janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi ini ", Mereka menjawab : " Sesungguhnya kami orang orang yang mengadakan perbaikan ".
(Surah Al-Bakaroh: 11)


ولا تفسدوافى الأرض بعد إصلحها
Dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi,
sesudah (Allah) memperbaikinya ......

(Surah Al-A'raf : 56)

أفحكم الجهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يقنون
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki : padahal tiada yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang orang yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang orang yang yakin ?

Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang mengajak berhukum kepada selain hukum yang telah diturunkan Allah, maka Ia telah berbuat kerusakan yang sangat berat dimuka bumi,orang yang menghendaki selain hukum Allah, berarti ia menghendaki Hukum jahiliyah, dan dalil mengadakan perbaikan bukan alasan sama sekali untuk meninggalkan hukum Allah . Menunjukkan pula bahwa orang yang sakit hatinya akan memutar balikkan nilai nilai dimana yang haq dijadikan bathil dan yang bathil dijadikan haq.

Pengertian Iman yang benar dan Iman yang bohong, Iman yang benar yaitu :
Apabila berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw, dan menerima hukumnya dengan tunduk dan ridha. Dan Iman yang bohong yaitu : mengaku beriman tetapi tidak mau berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw


عن عبد الله بن عمرو : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم
قل : لايؤ من أحد كم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
قل النووي : حديث صحيح رويناه في كتاب الحجة بإسناد صحيح


Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr Radiyallahu Anhuma
Bahwa Rasulullah saw bersabda :
Tidaklah beriman (sempurna) seseorang diantara kamu, sebelum keinginan dirinya menuruti apa yang telah Aku bawa (dari Allah).
(Kata An-Nawawi : Hadist shahih kami riwayatkan dariKitab Al-Hujjah dengan isnad shahih).
Seseorang tidak akan beriman sempurna dengan sebenar benarnya sebelum keinginan dirinya mengikuti tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah saw. Setiap Muslim wajib mengingkari thoghut sehingga Ia menjadi seorang mukmin yang lurus . Ibadah kepada Allah swt sama sekali tidak bermanfaat kecuali dengan menjauhi beribadah kepada selain Nya dan mengingkari thoghut.

Jumat, 21 November 2008

MACAM-MACAM TAUHID

OlehSyaikh : Shalih bin Fauzan Al-Fauzan.

Pertanyaan ?
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya :
Disebabkan kebodohan saya tentang macam-macam tauhid dan apa hakikatnya, sementara itu saya ingin berlepas diri dari (hal-hal yang bertentangan dengan tauhid, yaitu) kesyirikan, maka saya mengharapkan jawaban dari pertanyaan berikut ini. Ada berapa macam tauhid itu, dan bagaimana penjelasannya masing-masing ?

Jawaban :
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menambah semangat anda untuk mencari kebaikan, dan sungguh hal ini menunjukkan betapa besar perhatian anda terhadap masalah aqidah.
Memang wajib bagi setiap muslim memperhatikan aqidahnya karena aqidah merupakan asas (fondasi) dari amal perbuatannya.
Amal perbuatan itu dikatakan benar dan akan mendapatkan pahala hanya jika memenuhi dua
Syarat berikut :

Pertama :
Amal tersebut haruslah dibangun di atas aqidah yang benar (ikhlas).

Kedua :
Harus sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (mutaba'ah).
Perhatian anda terhadap aqidah, yakni yang berkaitan dengan pengetahuan tentang macam-macam tauhid, menunjukkan anda bersemangat meraih kebaikan -alhamdulillah-, menginginkan kebenaran dan kelurusan aqidah yang wajib bagi setiap muslim.
Berkenan dengan macam-macam tauhid,

maka saya sampaikan bahwa: Tauhid ada tiga macam.

Pertama : Tauhid Rububiyah.
Artinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal perbuatanNya.
Seperti ( mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan bahaya, memberi manfaat, dan lain-lain )
yang merupakan perbuatan-perbuatan khusus Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Seorang muslim haruslah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak memiliki sekutu dalam RububiyahNya.

Kedua : Tauhid Uluhiyah.
Artinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam jenis-jenis peribadatan yang telah disyariatkan.
Seperti ; ( shalat, puasa, zakat, haji, do'a, nadzar, sembelihan, berharap, cemas, takut, dan sebagainya yang tergolong jenis ibadah).
Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal-hal tersebut dinamakan Tauhid Uluhiyah.
Dan tauhid jenis inilah yang dituntut oleh Allah Subhanhu wa Ta'ala dari hamba-hambaNya. Karena tauhid jenis pertama, yaitu Tauhid Rububiyah, setiap orang (termasuk jin) mengakuinya, sekalipun orang-orang musyrik yang Allah Subhanahu wa Ta'ala utus Rasulullah kepada mereka. Mereka mayakini Tauhid Rububiyah ini, sebagaiman tersebut dalam
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala."Artinya :
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, Siapakah yang menciptakan mereka ? niscaya mereka menjawab Allah. Maka bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)
". [Al-Zukhruf : 87]"

Artinya :
Katakanlah, Siapakah yang mempunyai tujuh langit dan mempunyai Arsy yang besar ? Mereka akan menjawab, Kepunyaan Allah. Katakanlah, Mengapa kamu tidak bertaqwa?"
[Al-Mu'minun : 86-87]

Masih banyak ayat-ayat yang menunjukkan bahwa
orang-orang musyrik meyakini Tauhid Rububiyah. Akan tetapi, sebenarnya yang dituntut dari mereka adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah. Jika mereka mengikrarkan Tauhid Rububiyah, maka hendaknya juga mengakui Tauhid Uluhiyah (ibadah). Sungguh, Rasulullah (diutus untuk)menyeru mereka agar meyakini Tauhid Uluhiyah.
Hal ini disebutkan dalam firmanNya Subhanahu wa Ta'ala.
Artinya :
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut, lalu diantara umat-umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula orang-orang yang telah dipastikan sesat. Oleh karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (para rasul)"
[An-Nahl ; 36].

Setiap rasul menyeru manusia agar meyakini Tauhid Uluhiyah. Adapun Tauhid Rububiyah, karena merupakan fitrah, maka belumlah cukup kalau seseorang hanya meyakini tauhid ini saja.

Ketiga : Tauhid Asma was Sifat.
Yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-saifat untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diriNya maupun yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Serta meniadakan kekurangan-kekurangan dan aib-aib yang ditiadakan oleh Allah terhadap diriNya, dan apa yang ditiadakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tiga jenis tauhid inilah yang wajib diketahui oleh seorang muslim, lalu secara sungguh-sungguh mengamalkannya.

Sabtu, 08 November 2008

MELACAK JEJAK TOGHUT





Oleh : Um.ZAHRA
Tanjumg Priok JAKARTA

Segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga dan semua shahabat, wa badu,Ini adalah bahasan tuntas tentag para pembela thoghut hukum dari kalangan Polisi, Tentara, Badan Intelejen, Pers, Cendikiawan, Ulama Suu' dan yang lainnya yang membantu thoghut dengan ucapan, perbuatan atau dengan keduanya di negara kafir mana saja.

MUQADIMAH - PERTAMA:
Penjelasan Makna Thaghut dan AnsharnyaIman seseorang tidak akan syah sampai dia kafir terhadap thoghut,
Allah ta’aalaa berfirman :فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
Barangsiapa yang Kafir ( ingkar) kepada Thaghut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat
(QS. Al Baqoroh : 256)
Ayat ini merupakan tafsir dari syahadat Laa Ilaha Illalloh yang berisi An Nafyi (peniadaan) dan Itsbat (penetapan).An Nafyu maknanya :
Peniadaan uluhiyyah dari setiap yang diibadahi selain Allah,
dan seorang hamba merealisasikan dengan :
Meyakini kebathilan beribadah kepada selain Alloh-meninggalkan peribadatan macam ini-Membencinya-mengkafirkan pelakunya-Memusuhi mereka.
Inilah yang dimaksud dengan al kufru bith thaghut (kafir terhadap thoghut),serta inilah tatacaranya sebagaimana yang dituturkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.Sehingga atas dasar ini maka anshar para thaghut dalam bahasan ini adalah :

1.Orang-orang yang membela-bela dengan ucapan, dan diantara para pemuka mereka adalah : sebagian ulama’ suu’ dan orang orang yang sok berilmu yang memeberikan Syar’iyyah Islamiyah (keabsahan Islam) terhadap penguasa kafir dan mereka membentengi dari para penguasa itu tuduhan kafir, mereka menganggap bodoh kaum muslimin mujahidin yang memberontak para penguasa itu, mereka menuduhnya sebagai orang jahat dan sesat serta mereka menyemangati para penguasa untuk menindak mereka.
Sebagaimana yang masuk dalam jajaran orang yang membela dengan ucapan :
sebagian penulis,wartawan dan orang orang pemberitaan yang melakukan perbuatan serupa dengan ini.

2.Orang-orang yang membela-bela dengan perbuatannya.
Dan sebagai tameng terdepan adalah pasukan para penguasa Kafir baik itu dari pasukan tentara atau polisi, pasukan penopang (di belakang) sama dengan yang terjun langsung di medan. Mereka itu sesuai ketentuan UUD dan undang undang yang berlaku di negeri ini dipersiapkan untuk tugas tugas berikut :
Menjaga keutuhan negara yang berarti lancarnya keberlangsungan penerapan

UUD dan undang –undang kafir buatan serta memberikan sangsi setiap orang yang menentang hal itu atau berusaha merubahnya.·Menjaga keabsahan UUD : dan ia berarti melindungi penguasa kafir itu sendiri karena dia menurut mereka dianggap sebagai pemimpin yang syah sesuai UUD (dustur) karena pengangkatannya telah berlangsung menurut proses yang dijelaskan UUD.·Mengokohkan kekuasaan Undang-undang: dengan melaksanakan apa yang digariskan UUD dan undang–undang. Dan masuk dalam hal itu pelaksanaan putusan-putusan yang muncul di Mahkamah mahkamah Thaghut.·
Dan juga masuk dalam kategori Ansharut Thawaghit : setiap orang yang membantu mereka dengan ucapan atau perbuatan dari kalangan selain orang orang yang telah kami sebutkan disini termasuk seandainya yang membela-bela itu pemerintah negara lain maka ia mendapat status hukum yang sama.
Inilah yang dimaksud sebagai thoghut dan mereka adalah ansharnya.Ketahuilah bahwa tidak mungkin bagi orang kafir melakukan kerusakan di bumi ini atau menganiaaya suatu umat dari manusia kecuali dengan kawanan pembantu yang membantu dia atas kezalimannya dan pengrusakannya serta mereka melindungi dia dari orang orang yang ingin membalasnya. Jadi orang kafir tidak akan bisa berdiri dan merusak kecuali dengan kawanan pembantu dan anshar dan dari sinilah
Allah ta’ala berfirman :وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,…”

(QS.Hud : 113)
Para ulama mengatakan:”Ar Rukun” adalah kecenderungan yang sedikit. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: ”Dan begitu juga yang diriwayatkan dalam sebuah atsar: “Bila terjadi hari kiamat,maka dikatakan : Mana orang-orang yang zalim dan kawanan pembantu mereka? --atau berkata : dan sejawat sejawat mereka— maka mereka dikumpulkan dalam peti-peti dari api kemudian mereka dilemparkan ke Neraka”Maka penguasa kafir itu tidak akan bercokol dan juga hukum hukum kafir serta apa yang ditimbulkannya berupa kerusakan yang besar di negeri kaum muslimin tidak akan berlangsung kecuali dengan anshar para penguasa thaghut itu, sama saja dalam hal itu anshar thaghut dengan ucapan yang menyesatkan manusia dan membuat pengkaburan ditengah mereka atau anshar dia dengan perbuatan melindungi para penguasa dan undang-undang, menjaga mereka dari orang orang yang berupaya pembalasan terhadap mereka,serta membantu mereka terhadap orang tersebut. Oleh sebab itu tidak aneh bila Allah mensifati bala tentara penguasa kafir dengan ‘pasak’ karena merekalah yang mengokohkan kekuasaan dan pemerintahannya dan mereka sebab keberlangsungan kekafiran dalam firmanNya Ta’ala :
وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ
dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak).

(QS. Al Fajr : 10)
Ibnu Jarir Ath-thabariy rahimahullah
berkata dalam tafsir ayat ini :
Allah Yang Maha Mulia berfirman:
‘Apakah kamu tidak melihat apa yang Alloh lakukan kepada Fir’aun yang memiliki pasak-pasak’. Para ahli takwil (tafsir) berselisih pendapat tentang makna firman Alloh yang berbunyi: ذِي الْأَوْتَادِ” Yang mempunyai pasak-pasak” dan apa alasan dikatakan hal itu baginya?
Sebagian mereka mengatakan:
Makna itu adalah yang memiliki banyak tentara menguatkan baginya, pemerintahannya dan mereka berkata :
“pasak-pasak” ditempat ini berarti bala tentara.
(Tafsir Ath Thobariy, 30 / 179).

Dan ini semuanya dalam penjelasan kejahatan ansharuth thawaghit dan bahwa merekalah sebab sebenarnya untuk keberlangsungan kekafiran dan kerusakan sehingga tidak mungkin bagi orang kafir merusak ummat dan menzaliminya kecuali dengan kawanan pembantu yang membantunya. Bila saja Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata :
أنا برئ من كل مسلم يقيم بين أظهر المشركين
Saya berlepas diri dari setiap muslim yang menetap ditengah-tengah kaum musyrikin.
maka bagaimana dengan orang yang membantu mereka terhadap kekafirannya dan bagaimana dengan orang yang membantu mereka terhadap sikap mereka menyakiti dan memerangi kaum muslimin?
Dan dari sisi realita, maka sesungguhnya peperangan kaum muslimin melawan para thaghut penguasa dalam rangka mencopot mereka dengan mengangkat penguasa muslim sebenarnya adalah melawan anshar mereka dari kalangan militer dan lainnya, oleh sebab itu wajiblah mengetahui status ansharuth thawaghit.
Dan ia adalah materi bahasan kita.

Baca lanjut Melacak Jejak Toghut :Judul : Melacak Jejak ToghutPenulis :
Syaikh Abdul Qadir bin Abdul AzizAlih
Bahasa : Abu Sulaiman Amman Abdurrahman
Penerbit : Kafayeh Cipta Media

Kamis, 06 November 2008

TAUHID PRIORITAS PERTAMA DAN UTAMA

[bismillahir Rahmaanir Rahiim]
MUKADDIMAH
Segala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan, hidayah dan ampunanNya, serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal-amal kami.
Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang dapat menberinya hidayah. Aku bersaksi bahwasannya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” [Ali Imran : 102]
“Artinya : Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan daripadanya Allah menciptakan isterinya (Hawa); dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan ) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharaah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” [An-Nisaa' : 1]
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [Al-Ahzab : 70-71]
Wa ba’du :
Ini adalah risalah[1] yang sangat besar manfaat dan faidahnya baik bagi orang awam maupun kaum intelektual karena di dalamnya memuat jawaban dari seorang ‘alim ulama masa kini yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani -semoga Allah merahmatinya dan memberi (kita) manfaat dengan ilmunya-. Dalam risalah ini beliau menjawab suatu pertanyaan yang berkembang dikalangan orang-orang yang memiliki ghirah (semangat) terhadap agama Islam, mereka resah siang dan malam memikirkan soal ini dan hati mereka pun dibuat sibuk dengannya, inti pertanyaannya adalah :
“Apa jalan yang harus ditempuh untuk mencapai kebangkitan kaum muslimin? Dan jalan apa yang harus ditempuh oleh mereka sehingga Allah Ta’aala memberikan kekuasaan kepada mereka serta menempatkan mereka pada suatu kedudukan yang layak diantara umat-umat yang lain?”
Maka Al-Allamah Al-Albani -semoga Allah memberi (kita) manfaat dengan ilmunya- menjawab pertanyaan ini dengan tuntas dan jelas karena dirasakan bahwa umat sangat membutuhkan jawaban ini, maka kami memandang perlu menyebarluaskannya.
Saya memohon kepada Allah Ta’aala semoga risalah ini bermanfaat dan semoga Allah memberi hidayah kepada kaum muslimin menuju apa yang dicintai dan diridhaiNya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia

Selasa, 16 September 2008

Mengapa orang-orang Arab musyrikin menolak Dak'wa RASULULLAH SAW

Oleh Nurdin.A.Verin.
Fahaheel-Kuwait


Kalau kita mengkaji dari Sirah Nabi Muhammad SAW, jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW , ternyata orang-orang arab musyrikin jahiliyah sudah meyakini, mengakui dan mengerti betul, akan sifat Rububiyah Allah sebagai :
Al-Khalik/Pemilik (Pemilik alam semesta, pencipta alam semesta, pemberi rejeki, yang menghidupkan dan yang mematikan) Secarah fitrah mereka itu sudah beriman kepada sifat Rububiyah Allah. Semua ini dapat kita ketahui di dalam
Al-Qur’an.
(Q.S.:Yunus ayat 31 dan 32)
Allah berfirman :

قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَىَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَىِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ‌ۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُ‌ۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ (٣١) فَذَٲلِكُمُ ٱللَّه رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّ‌ۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَـٰلُ‌ۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُون
Artinya:
Katakanlah:"Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup [4] dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah: "Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]?" (31) Maka [Zat yang demikian] itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan [dari kebenaran]? (32)

Dari ayat-ayat di atas ini membuktikan bahwa orang-orang musyrikin arab jahiliyah, jauh sebelum Kelahiran Nabi SAW, mereka sudah mengimani Tauhid Rububiyah. Orang-orang arab jahiliyah sudah menamakan Ka’bah itu dengan nama Baitullah (Rumah- Allah). Keberadaan masjid Al-Haram sudah ada sebelumnya, dan sudah sudah dipergunakan sebagai tempat untuk melakukan ibadah rutinitas bagi orang-orang arab kafir jahiliyah, maksud jahiliyah disini bukan karena mereka itu bodoh, (buta huruf). Pada masa itu orang-orang arab sudah mencapai kebudayaan dan peradaban yang tinggi, dalam bidang perdagangan mereka sudah maju. Pembesar pembesar Quraisy didalam pemerintahannya sudah meletakkan dasar dasar Demokrasi, dan mereka sudah memiliki Majelis Permu- syawaratan yang mereka namakan “Darunnadwah” dan Paman Nabi sendiri Abu Jahal digelar sebagai Ahli Hukum dengan sebutan Abul Hakam. Kejahiliyahan mereka yang dimaksudkan adalah pelanggaran masalah Aqidah, mereka menyekutukan Allah dalam cara beribadah, mereka menjadikan berhala-berhala, arca-arca, wali-wali sebagai Nasithoh/perantara yang disebut : Al-I’thikod/keyakinan hati, mereka bertawasul, bertaqarrub mendekatkan diri kepada berhala berhala untuk memohon syafaat dengan berkeyakinan bahwa amalan yang mereka lakukan itu sangat mulia dan dicintai oleh Allah, dan berhala-berhala, arca arca, wali-wali itu semua sangat dekat dengan Allah. Mereka menjadikan semua itu sebagai alat perantara kepada Allah untuk memohon syafaat berdasarkan petunjuk amalan cara ibadah nenek moyang mereka. Inilah letak kejahiliyahan/kebodohan mereka semua. Dan pada masa itu juga, orang-orang arab musyrikin setiap tahunnya menunaikan haji pada musim haji ke Baitullah. Mereka melakukan tawaf keliling ka’bah sambil mengumandangkan lafaz ”labaikallah”. Pembesar-pembesar quraish bersama orang-orang arab pada saat mengepung Bani- Hasyim (Hisar), mereka menulis perjanjian yang ditempelkan pada ka’bah, mukadimah perjanjian itu tertulis “Bismillahumma” (Dengan Namamu Ya Allah). Abu Jahal (Abul Hakam) sebagai seorang yang ahli hukum, ketika awal perang Badar, dia berdo’a didepan Ka’bah, di dalam do’anya dia menyebut ”Allahumma ahlik Muhammad”

yang artinya ”Ya Allah, Musnahkanlah Muhammad”.
Abdul Muthalib (kakek nabi) menamakan Bapak Rasulullah SAW dengan nama Abdullah (hamba Allah). Pada tahun kelahiran Nabi SAW, saat terjadinya peristiwa pasukan bergajah yang dipimpin oleh Gubernur Yaman, yang bernama Abrahah datang memasuki Kota Mekah untuk menghancurkan Ka’bah, Abdul Muthalib menghadang Abrahah untuk menuntut kepada Abrahah, agar supaya semua unta-unta miliknya yang dirampas oleh tentara Abraha, agar supaya dikembalikan kepadanya. Abrahah sangat terkejut dan merasa heran sekali, karena Abdul Muthalib justru mempersoalkan unta-untanya, mengapa bukan mempersoalkan Ka’bah yang akan dihancurkan. Berkatalah Abdul Muthalib, “Sesungguhnya unta-unta itu Akulah Rabnya/Pemiliknya” sedangkan ”Ka’bah itu Allah Pemiliknya.” Dari kata-kata Abdul Muthalib ini jelas dia telah mengimani sifat Rububiyah Allah sebagai Tuhan Pemilik alam semesta, ketika detik-detik penghancuran Ka’bah, orang-orang arab jahiliyah itu berlari menuju ke bukit-bukit sekeliling Ka’bah untuk menyaksikan dari kejauhan pembalasan Allah terhadap Pasukan Abrahah bersama tentara bergajahnya. Peristiwa ini telah diabadikan di dalam Al-Quran
(Q.S:Surat Al-Fiil).
Allah berfirman :

ألَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصۡحَـٰبِ ٱلۡفِيلِ (١) أَلَمۡ يَجۡعَلۡ كَيۡدَهُمۡ فِى تَضۡلِيلٍ۬ (٢) وَأَرۡسَلَ عَلَيۡہِمۡ طَيۡرًا أَبَابِيلَ (٣) تَرۡمِيهِم بِحِجَارَةٍ۬ مِّن سِجِّيلٍ۬ (٤) فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٍ۬ مَّأۡڪُولِۭ (٥)
Artinya :

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? (1) Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka [untuk menghancurkan Ka’bah] itu sia-sia?, (2) Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, (3) yang melempari mereka dengan batu [berasal] dari tanah yang terbakar, (4) lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan [ulat]. (5)

Sesungguhnya peristiwa ini adalah sebagai pelajaran dan peringatan kepada mereka (orang-orang arab kafir quraish jahiliyah), sebagai nikmat yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Karena itu mereka diperintahkan untuk menyembah Allah. Dari kisah ini, kita dapat menyimpulkan bahwa jauh sebelum kelahiran Nabi SAW, orang-orang musyrikin jahiliyah sudah beriman kepada sifat Rububiyah Allah. Kalau Allah itu diimani sebagai Al-Khalik/Pencipta maka tidak sulit bagi manusia karena tauhid Rububiyah ini sudah menjadi fitrah manusia sejak lahir, dan sudah tersentralisasi di dalam diri manusia.
Allah berfirman :

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَأَشۡہَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِہِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡ‌ۖ قَالُواْ بَلَىٰ‌ۛ شَهِدۡنَآ‌ۛ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ إِنَّا ڪُنَّا عَنۡ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ 
Artinya :

Dan [ingatlah], ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka [seraya berfirman]: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul [Engkau Tuhan kami], kami menjadi saksi". [Kami lakukan yang demikian itu] agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami [bani Adam] adalah orang-orang yang lengah terhadap ini [keesaan Tuhan]",
(Q.S: Al-A’raf : 172).

Apa sebenarnya yang terjadi antara orang-orang arab kafir quraish jahiliyah dengan Nabi SAW . Mengapa mereka semua menentang, menolak, dan memerangi ajakan Nabi SAW. Sedangkan Nabi SAW mengajak untuk beribadah kepada Tuhan yang sama, Tuhan yang sudah mereka yakini dari nenek moyang mereka yaitu Allah. Semua ini bisa kita buktikan berdasarkan Al-Qur'an
(Q.S: Al-Mukminun ayat 84-89)

قُل لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ إِن ڪُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ (٨٤) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ‌ۚ قُلۡ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (٨٥) قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ ٱلسَّبۡعِ وَرَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ (٨٦) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ‌ۚ قُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ (٨٧) قُلۡ مَنۢ بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيۡهِ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ (٨٨) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ‌ۚ قُلۡ فَأَنَّىٰ تُسۡحَرُونَ (٨٩)
Artinya :

“Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?" (84) Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?" (85) Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ’Arsy yang besar?" (86) Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" (87) Katakanlah: "Siapakah yang di tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari [azab] -Nya, jika kamu mengetahui?" (88) Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "[Kalau demikian], maka dari jalan manakah kamu ditipu?" (89).”

Berdasarkan ayat-ayat di atas ini, membuktikan orang-orang arab musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah SAW, mereka semua telah beriman kepada sifat Rububiyah Allah. Orang-orang arab musyrikin jahiliyah, menolak seruan Nabi SAW karena mereka menyangka diri mereka telah beriman kepada Allah berdasarkan petunjuk amalan cara-cara ibadah nenek moyang mereka. Mereka menolak Nabi SAW dengan perkataan :
“Apakah kami belum beriman sedangkan kamilah setiap tahunnya memberi minum jemaah haji dan memakmurkan, mengurusi masjid Al-Haram”.
Maka turunlah firman Allah SWT di dalam

(Q.S: At-Taubah ayat 19) :

أَجَعَلۡتُمۡ سِقَايَةَ ٱلۡحَآجِّ وَعِمَارَةَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ كَمَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَجَـٰهَدَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ لَا يَسۡتَوُ ۥنَ عِندَ ٱللَّهِ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِين


Artinya :

Apakah [orang-orang] yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.

Ayat diatas ini menjelaskan dan membuktikan, bahwa secara fitrah, manusia itu sudah beriman kepada Tauhid Rububiyah. Mengimani Tauhid Rububiyah ini tidak sulit bagi manusia karena Tauhid Rububiyah ini hanyalah keyakinan jiwa. Beriman kepada Tauhid Rububiyah belum bisa memasukkan seseorang kedalam Islam, karena belum terwujud kedalam bentuk amalan, sedangkan amalan itu dibawa dan diterangkan oleh Nabi dan Rasul. Tauhid Rububiyah tidak membutuhkan utusan Nabi dan Rasul, pada saat terjadi pelanggaran terhadap amalan-amalan Ibadah yang menyimpang, artinya pelanggaran terhadap Tauhid Al-Uluhiyah dan ‘Asma wash-Shifat, maka disinilah diturunkannya atau diutusnya Nabi dan Rasul. Seluruh para Nabi dan Rasul menyeru kepada kaumnya dengan satu seruan yang sama yaitu :
Beriman kepada Tauhid Al-Uluhiyah/Ibadah, semua ini dapat diketahui didalm Al-Qur’an, dari Rasul pertama Nabi Nuh as sampai pada penutup para Rasul yaitu Nabi Muhammad SAW, semuanya menyerukan pada satu seruan yang sama yaitu :
يـــقـــوم اعـــبـــدو الــلــه مالــكــم مــن إلــه غــيــره
Hai kaumku sembahlah Allah saja
(beribadalah kalian kepada Allah)
tidak ada Ilah yang patut diibadahi kecuali Allah.
(Q.S: Al-A’raf : 54:65:73:85)

عــــبــدوالـلـه واجـــتـــنـــبــوالــطــغــــوت
Sembahlah Allah saja dan jauhilah thoghut
(Q.S: An-Nahl : 36)

Dari ayat diatas ini dapat di ketahui bahwa seluruh para Nabi dan Rasul diutus dengan tujuan dan misi yang sama, sekalipun syariatnya berbeda-beda tetapi untuk tujuan yang sama yaitu : ”Dakwa kepada Tauhid” pemurnian Ibadah hanya kepada Allah semata, dan tidak menyekutukanNya dengan yang lain, mengingkari kesyirikan, bertaqwa kepadaNya dan taat kepada Rasulnya. Pemurnian Ibadah inilah yang dimaksud dengan Tauhid Al-Uluhiyah.

Tauhid Al-Uluhiyah adalah :
mengesakan Allah semata dari segala pekerjaan hamba, dengan cara itu seseorang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan yang lain dalam beribadah kepadaNya, berdoa, khauf (takut), raja (harap), mahabbah (cinta), istianah(memohon pertolongan), istiadzah (memohon perlindungan), dzabh (penyembelihan), dan mengikuti apa yang disyariatkan maupun diperintahkan dengan tidak menyekutu- kannya dengan sesuatu apapun, dengan hati yang ikhlas karena Allah semata. Semua ibadah dan yang lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah, dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selainNya, apabila ibadah tersebut dipalingkan kepada selainNya maka pelakunya jatuh kepada Syirkun Akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya.
Allah SWT berfirman :
(Q.S:An-Nisaa 36:48:11:36)


وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـًٔ۬ا‌َ
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.(36)

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٲلِكَ لِمَن يَشَآءُ‌ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا 
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari [syirik] itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (48)

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٲلِكَ لِمَن يَشَآءُ‌ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاَۢ بَعِيدًا
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan [sesuatu] dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan [sesuatu] dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (116)

Setiap sesuatu yang disembah selain Allah SWT adalah bathil, dalilnya adalah, Allah SWT berfirman :
(Q.S:Al-Hajj:62)

ذَٲلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِىُّ ٱلۡڪَبِيرُ

[Kuasa Allah] yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah [Tuhan] Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.(62)

Semua para Nabi dan Rasul A.S menyerukan kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja :
(Q.S:Al-Mukminun:32)

فَأَرۡسَ
لۡنَا فِيہِمۡ رَسُولاً۬ مِّنۡہُمۡ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَيۡرُهُ ۥۤ‌ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri [yang berkata]: "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]". (32)

Mereka orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya, Mereka masih saja mengambil sesembahan selain Allah. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah SWT. Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah SWT dengan dua bukti :
Pertama :
Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan Uluhiyah sedikitpun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menghidupkan dan mematikan. Allah SWT berfirman :
(Q.S:Al-Fur’qaan:3)

وَٱتَّ
خَذُواْ مِن دُونِهِۦۤ ءَالِهَةً۬ لَّا يَخۡلُقُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ وَلَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ ضَرًّ۬ا وَلَا نَفۡعً۬ا وَلَا يَمۡلِكُونَ مَوۡتً۬ا وَلَا حَيَوٰةً۬ وَلَا نُشُورً۬ا 

Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya [untuk disembah], yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk [menolak] sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak [pula untuk mengambil] sesuatu kemanfa’atanpun dan [juga] tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak [pula] membangkitkan.(3)

Allah SWT berfirman :
(Q.S:Al-A’raaf:191:192)

أَيُشۡرِكُونَ مَا لَا يَخۡلُقُ شَيۡـًٔ۬ا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ
وَلَا يَسۡتَطِيعُونَ لَهُمۡ نَصۡرً۬ا وَلَآ أَنفُسَہُمۡ يَنصُرُونَ

Apakah mereka mempersekutukan [Allah dengan] berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. (191)
Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. (192)

Kedua :
Sebenarnya orang-orang musyrikin mengakui bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang ditangannyaNya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melindungiNya. Ini mengharuskan pengesaan Uluhiyah (penghambaan), sepeti mereka mengesakan Rububiyah (ketuhanan) Allah. Tauhid Rububiyah mengaharuskan adanya konsekuensi untuk melaksanakan Tauhid Al-Uluhiyah (beribadah hanya kepada Allah SWT saja).
(Q.S:Al-Baqarah:21-22)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ (٢١
ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٲشً۬ا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءً۬ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٲتِ رِزۡقً۬ا لَّكُمۡ‌ۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّه
أَندَادً۬ا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.(21)
Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air [hujan] dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu
mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah [5] padahal kamu mengetahui.(22)


Dari kesimpulan ini kita dapat memahami dengan jelas, bahwa umat-umat sebelumya yang diseru oleh para Nabi dan Rasul maupun orang-orang Arab musyrikin jahilia yang pernah diperangi oleh Nabi Muhammad SAW, ternyata bukan menolak Tauhid Rububiyah, tetapi mereka semua itu mengingkari, membangkang dan menolak dalam hal Tauhid Al-Uluhiyah.
Ketika Rasulullah SAW berdakwa kepada orang-orang Arab musyrikin jahilia, apa yang terjadi pada saat itu, ternyata mereka (orang-orang arab musyrikin) itu menolak dan sangat keberatan untuk diajak bersyahadat, mereka menolak untuk bersyahadat, karena mereka itu tidak mau hanya beribadah kepada Allah saja, dan mengikuti amalan yang dibawa oleh Baginda Rasulullah SAW, mereka itu sangat faham betul dengan makna kandungan dari pada syahadat itu, dan sangat mengerti betul apa arti dari tujuan untuk bersyahadat itu:
لاالـــــــه الاالــــــلــــــه yang artinya :
( tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah )
sehingga mereka berteriak :
(Q:S.Sood:5)

أَجَعَلَ ٱلۡأَلِهَةَ إِلَـٰهً۬ا وَٲحِدًا‌ۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَىۡءٌ عُجَابٌ۬
Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (5)

Ayat diatas ini menerangkan, bahwa ternyata mereka (orang-orang Arab musyrikin jahilia) itu tidak mau beribadah hanya kepda Allah saja.
(Q:S.Zumr:3)

وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِى مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ‌ۗ

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah [berkata]: "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". (3)

Namun semua pernyataan mereka itu adalah dugaan belaka, Allah menegaskan “Barang siapa yang menyembah selainnya maka dia telah berbuat syrik kepadaNya dan jatuh kepada kekafiran.

(Q:S.Yunus:18)

وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ‌ۚ قُلۡ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۚ سُبۡحَـٰنَهُ ۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ
Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak [pula] kemanfa’atan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak [pula] di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan [itu]. (18)

Allah SWT berfirman mengenai Latta, uzza, dan manat yang disebut sebagai Tuhan oleh kaum musyrikin jahilia.
(Q:S.An-Najm:23)

....
إِنۡ هِىَ إِلَّآ أَسۡمَآءٌ۬ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِہَا مِن سُلۡطَـٰنٍ‌ (٢٣
Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk [menyembah] nya.

(Q:S.Al-A’raaf:191-192)
أَيُشۡرِكُونَ مَا لَا يَخۡلُقُ شَيۡـًٔ۬ا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ (١٩١
وَلَا يَسۡتَطِيعُونَ لَهُمۡ نَصۡرً۬ا وَلَآ أَنفُسَہُمۡ يَنصُرُونَ (١٩٢

Apakah mereka mempersekutukan [Allah dengan] berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. (191)
Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. (192)


Ada beberapa faktor yang mendorong mereka (orang-orang arab Quraisy musyrikin) menolak dakwa Rasulullah SAW, menentang ajaran Islam dan memerangi kaum muslimin, antara lain ialah :
Pertama :
Mereka tidak mau beribadah hanya kepada Allah SWT saja,

( artinya menolak dalam hal Tauhid Al-Uluhiyah ).
Mereka menolak dakwa Rasulullah SAW adalah dalam masalah prinsip Aqidah/Azas Islam.
Mereka itu menolak untuk bersyahadat, karena ada sesuatu unsur yang sangat memberatkan mereka untuk bersyahadat, yaitu mereka tidak mau beribadah hanya kepada Allah saja, dan mengikuti amalan-amalan yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Mereka itu sangat memahami arti dari kandungan makna kalimat syahadat, menurut pandangan mereka, kalau ikrar syahadat itu mereka lakukan, maka, mereka harus beribadah hanya kepada Allah semata, dan tunduk terhadap amalan-amalan yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Berarti mereka harus mengingkari Tuhan-tuhan yang lainnya, dan berhala-berhala yang jumlahnya mencapai 360 sekian, sebagai alat perantara mereka kepada Allah

atau sebagai wali-wali mereka untuk memohon syafa’at, maupun amalan-amalan kurafat, dan harus mengingkari amalan-amalan ibadah nenek moyang mereka, yang telah mereka agung-agungkan itu.Inilah letak sumber perrmasalan yang menjadikan timbulnya pertentangan yang sengit dan terputusnya hubungan kekeluargaan antara mereka (orang-orang arab musyrikin) dengan Rasulullah SAW. Mereka memerangi dakwa Rasulullah SAW karena mereka tidak mau untuk diajak ber-Tauhid Al-Uluhiyah.
(Al-Mai’dah:104)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُواْ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآ‌ۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَہۡتَدُونَ (١٠٤

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak [pula] mendapat petunjuk? (104)


Kedua :
Persaingan berebut kekuasaan dalam kabilah besar Quraisy sudah sejak lama terjadi dimana terdapat golongan-golongan (keluarga besar) yang saling bersaing untuk merebut pengaruh dan kekuasaan. Mereka ini tidak mau tunduk kepada Muhammad, menurut pendapat mereka, apabila tunduk kepada Muhammad berarti sama dengan menyerhkan pimpinan dan kekuasaan kepada keluarga Muhammad (bani Abdul Muthalib). Mereka (orang-orang arab quraisy) tidak dapat membedakan ke-Nabian dan kekuasaan .

Ketiga :
Mereka menentang Islam dalam masalah (Ajaran persamaan hak dan derajat yang dibawa Islam), karena orang-orang arab quraisy musyrikin memandang derajat diri mereka adalah lebih mulia danlebih tinggi dari golongan bangsa arab lainnya. Sedangkan Rasulullah SAW datang dengan dengan membawa ajaran Islam memandang manusia itu sama saja hak dan martabatnya, tidak ada perbedaan antara hamba sahaya dengan tuannya, dan antara orang kulit putih dengan orang kulit hitam.
Sebagaimana Allah SWT berfirman :
(QS:Al-Hujurat:13)

إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡ‌ۚ ۬ (١٣
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.

Oleh sebab itu orang quraisy enggan masuk Islam, menolak ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, yang menurut angapan mereka semua itu hanya menurunkan martabat mereka.